60 Usia di Ambang Maut

Posted on 07.05 by SMART MOSLEM | 0 komentar

Saudara dan saudariku sesama Muslim,Kehidupan manusia di dunia ini dimulai saat ruhnya ditiupkan ketika janin berada dalam kandungan ibunya. Kemudian jika dia ditakdirkan Sang Pencipta untuk hidup, maka ia akan dilahirkan. Selanjutnya ia akan tumbuh menjadi besar untuk menghabiskan ‘sesaat’ waktunya menjalani kehidupan di atas bumi ciptaan-Nya ini. Kemudian kehidupannya di dunia itu akan berakhir ketika dicabut ruhnya. Saat ajal menjemputnya, itulah akhir kehidupannya di dunia yang fana (sementara / tidak abadi) ini, namun pada saat itulah dimulai awal dari hari-hari penantiannya yang panjang dalam kehidupannya di alam barzakh yang jelas-jelas bergantung pada amal dan perbuatannya selama didunia, jika amal ibadahnya selama hidup didunia baik maka penantian yang panjang itu akan terasa singkat.


Selanjutnya, kelak ketika sangkakala telah diperintahkan-Nya untuk ditiupkan, dimulailah penghisaban dirinya yang menjadi hari penentu dari kehidupan akhiratnya yang kekal dan abadi.

Rasulullah SAW bersabda : “ Saat manusia tumbuh menjadi besar, ada dua hal yang ikut menjadi besar bersamanya, yakni cinta harta dan berangan-angan akan panjang usianya “. (HR. Bukhori).

Usia manusia oleh sebagian ulama dibagi dalam empat tahapan masa kehidupannya di dunia ini, yaitu masa kecil, masa muda, masa separuh baya, dan masa tua. Usia enam puluh tahun, disebut sebagai usia yang sudah memasuki masa tua. Umumnya, manusia pada usia ini sudah cenderung melemah kekuatan dan menurun daya tahan fisiknya. Usia enam puluh tahun dapatlah dikatakan sebagai usia yang sudah berada di ambang maut, usia yang sudah mendekati ‘pertarungan’ dengan maut.

Rasulullah SAW bersabda : “ Usia umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sedikit yang berhasil melewatinya “. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Usman bin Affan pernah berkata bahwa sesungguhnya Allah SWT menyukai orang yang berusia dua puluh tahun, namun bersikap seperti orang berusia delapan puluh tahun. Dan, Allah SWT membenci orang yang berusia enam puluh tahun, tapi bersikap seperti orang berusia dua puluh tahun.

Rasulullah SAW bersabda : “ Manusia menjadi tua dan ada dua hal yang akan tetap muda ikut bersamanya, yakni kecintaan mencari harta dan hasrat memperpanjang usianya “. (HR. Muslim).

Al-Qurthubi pernah menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan hamba untuk hidup dan memiliki ilmu, karena dengan itulah tercapai kesempurnaannya. Lalu Allah menimpakan kepadanya pelbagai halangan seperti tidur, hadats, dan berkurangnya kemampuan fisik, karena kesempurnaan sejati hanya milik Yang Maha Awal, Yang Tiada Berawal, Yang Maha Pencipta, Allah SWT. Kalau seseorang bisa mengurangi tidur dengan sedikit makan dan begadang malam, hendaknya ia mencoba melakukannya. Bodoh namanya, kalau seseorang hidup selama enam puluh tahun tapi sepanjang malam tidur, sehingga setengah usianya habis sia-sia. Lalu tidur lagi di siang bolong mengikuti nafsu malasnya untuk beristirahat, habislah dua pertiga usianya. Yang tersisa baginya hanya dua puluh tahun saja. Sungguh bodoh dan pandir, kalau seseorang menghabiskan dua pertiga usianya hanya untuk kenikmatan semu, namun enggan menghabiskan usianya dalam kenikmatan abadi, disisi Yang Maha Kaya, Yang Maha Sempurna, Yang Tidak Pernah Tidak Ada, dan Yang Tidak Pernah Berbuat Zalim.

Rasulullah SAW bersabda : “ Hati orang yang berusia lanjut akan tetap muda dalam dua hal, yakni cinta dunia dan berangan-angan panjang “. (HR. Bukhori).

Bolehlah dikatakan usia enam puluh tahun sebagai batas paling akhir untuk dirinya sudah memfokuskan hari-hari di sisa kehidupannya itu kepada kekhusyukan dan kepasrahan serta urusan akhirat dalam rangka menanti datangnya ajal. Mereka yang telah berusia mencapai enam puluh tahun haruslah bersyukur, sebab usianya itu berarti ia telah diberikan kelonggaran. Sesungguhnya tak banyak lagi hari yang tersisa baginya untuk berangan-angan panjang dan mencintai dunia, karena tak berapa lama lagi akan tercapai batas akhir dari kelonggaran usianya.

Rasulullah SAW bersabda : “ Barangsiapa yang dipanjangkan usianya hingga enam puluh tahun, berarti Allah memberikan udzur atau kelonggaran pada usianya “. (HR. Abu Hurairah dan Ibnu Mardawaih).

Allah SWT berfirman :

“ Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : ‘ Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh, berlainan dengan yang telah kami kerjakan ‘. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun “. (QS : Fathir : 37).

Rasulullah SAW bersabda : “ Sungguh para nabi sebelumku telah memberikan peringatan secara amat baik. Dan sungguh, di hari kiamat nanti akan datang panggilan dari sisi Allah kepada mereka yang berusia enam puluh tahun. Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ? “. (HR. Abu Hurairah).

Allah SWT telah memberikan kelonggaran dengan memanjangkan usianya, tentunya agar mereka yang telah dipanjangkan usianya itu segera melaksanakan pelbagai ketaatan, amal saleh, ibadah yang khusyuk, dan memohon rahmat-Nya untuk pengampunan atas segala kesalahan serta dosa yang telah diperbuatnya. Semua itu demi sesuatu yang amat dibutuhkannya di hari kefakiran kelak, ketika telah tiba hari penghisaban atas diri
mereka.

Rasulullah SAW bersabda : “ Pertarungan maut itu berada diantara usia enam puluh tahun hingga tujuh puluh tahun “. (HR. Bukhori).

Fudhoil bin Iyyadh pernah berkata kepada seseorang lelaki : “ Berapa tahun usiamu ? “.
Kemudian orang itu menjawab : “ Enam puluh tahun “.

Lalu Fudhoil berkata : “ Semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Robbmu, nyaris saja engkau sampai tujuan “.

Lelaki itu kemudian menyahutnya : “ Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un “.

Fudhoil lalu menanyakannya : “ Engkau mengetahui tafsir dari kalimat itu ?“.

Lelaki itu menjawabnya : “ Tolong tafsirkan kalimat itu untukku, wahai Abu Ali “.

Fudhoil pun lalu mentafsirkannya : “ Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah, dan bahwa dia pasti akan berpulang kepada Robbnya, maka hendaklah ia menyadarinya bahwa ia pasti akan berdiri dihadapan Allah. Barangsiapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri
dihadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggungjawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggungjawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak “.

Lelaki itu kemudian menanyakan : “ Lalu, bagaimana jalan keluarnya ? ”.

Fudhoil menjawab : “ Mudah saja “.

Lelaki itu menyahutnya : “ Mudah itu yang bagaimana ? “.

Fudhoil menjelaskannya : “ Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu. Janganlah engkau berbuat keburukan pada masa yang tersisa, karena segala perbuatanmu di masa lampau dan yang akan datang itu akan diperhitungkan di sisi-Nya “.

Rasulullah SAW bersabda : “ Kalau seseorang manusia meninggal dunia, amal perbuatannya terputus, kecuali tiga hal, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak saleh yang mendoakan orangtuanya “. (HR. Muslim).

Makna hadits ini oleh beberapa ulama dikatakan bahwa pahala dari amalan orang yang sudah meninggal dunia akan terputus oleh kematiannya kecuali tiga hal itu. Namun ketiganya, yaitu harta dan ilmu serta anak, juga dapat menyebabkan dosanya masih akan terus ditunainya. Hal itu karena hakikat penyebab dari pahala dan dosa yang ditimbulkan dari ketiganya itu.

Harta dunia yang diwariskannya dapat menjadi hal maslahat berupa pahala yang terus mengalir baginya di kehidupan akhirat, jika harta yang ditinggalkannya itu memberikan manfaat bagi kebaikan dunia menurut parameter kebaikan berdasarkan nilai-nilai agama yang diridhoi oleh Allah SWT. Namun justru akan menjadi mudharat berupa dosa yang terus ditunainya di kehidupan akhirat, jika harta yang ditinggalkannya itu telah menjadikan kemaksiatan di dunia, apalagi jika menyebabkan pertengkaran diantara ahli warisnya. Bahkan lebih parah lagi jika hartanya itu malahan dijadikan sarana berbuat kemaksiatan oleh para ahli warisnya. Oleh sebab berhati-hatilah dengan harta dunia, ia dapat memberikan aliran pahala yang tiada terputus, namun dapat membuahkan dosa yang mengalir tiada terputus pula. Sesungguhnya hanya harta berupa sedekah jariyah dan wakaf yang akan menjamin kesejahteraan kehidupan akhiratnya.

Demikan juga dengan ilmu yang ditinggalkannya melalui pengajaran dan tulisannya. Kemanfaatan dan kemudharatan dari ilmunya itu tentu menurut parameter manfaat dan kebaikan berdasarkan nilai-nilai yang diridhoi Allah SWT. Tak berbeda dengan anak keturunannya sebagai hasil didikan dan pengasuhan serta pengajarannya. Oleh sebab itu berhati-hatilah dalam pengajaran ilmu dan pengasuhan anak. Ingatlah hanya anak keturunan yang soleh dan solehah saja yang akan diterima doa permohonan pengampunan bagi dosa orangtuanya, bukan doa dari anak keturunan yang tak soleh dan tak solehah.

Imam Ahmad pernah berkata bahwa suatu ketika Rasulullah SAW dihadapan beberapa sahabatnya
bersabda : “ Maukah kalian aku tunjukkan orang terbaik di antara kalian ? ”. Para sahabatnya menjawab : “ Mau, wahai Rasulullah “. Selanjutnya beliau Nabi SAW bersabda : “ Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling panjang usianya dan terbaik amalannya“.

Sungguh usia panjang itu adalah aset berharga dan bermanfaat yang mendatangkan pahala baginya, jika usianya itu bernilai keimanan dan kebaikan sesuai dengan kebenaran-Nya. Namun usia panjang itu dapat merupakan kerugian tiada tara bagi dirinya yang akan mendatangkan dosa baginya, jika disepanjang usianya itu berisikan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya.

Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan suatu doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW : “Ya Allah, biarkanlah aku hidup kalau memang hidup ini lebih baik bagiku, dan cabutlah nyawaku kalau memang kematian itu lebih baik bagiku “.

Anas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Kalau Allah menginginkan kebaikan pada diri hamba-Nya, pasti Allah akan membuatnya beramal ”.Kemudian para sahabatnya bertanya : “ Bagaimana Allah membuatnya beramal ? “. Rasulullah SAW menjawabnya : “ Allah akan memberinya taufik dan hidayah-Nya agar mampu beramal salih sebelum matinya “.

Akhirulkalam. Bersyukurlah bagi mereka yang diberikan kelonggaran usia oleh Allah SWT, seyogyanya usianya itu tidak disia-siakan olehnya. Rasulullah SAW bersabda :

“ Allah telah memberikan udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya, sehingga mencapai usia enam puluh tahun “ (HR. Ahmad).

Dan Rasulullah SAW juga bersabda : “ Sesungguhnya amal perbuatan dinilai sesuai dengan bagian akhirnya “ (HR. Bukhori). Bagian akhir itu adalah saat ajal menjemput kita, akan khusnul khotimah-kah akhir hidup kita ?, Akankah disaat sakaratul maut nantinya ketika lidah di mulut kita telah kelu maka lidah di kalbu kita ini masih akan mampu mengucapkan ‘ Laa Illaha Ilalllah Muhammadur Rasulullah ‘ yang merupakan suatu kalimat jaminan surga bagi kita di kehidupan akhirat kelak ?.

Tulisan ini disadur oleh NN dari buku “ Misteri Umur 60 : Menyibak Pernik-Pernik Usia Kritis Di Ambang Maut “ yang ditulis oleh Ali bin Sa’id bin D’jam dan diterbitkan oleh Wacana Ilmiah Press - Solo.




TABUNGAN AKHERAT MENURUT AL-QUR`AN DAN SUNNAH

Posted on 18.48 by SMART MOSLEM

Saudara-saudariku sesama Muslim yang dimuliakan ALLAH, bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa sebagian besar masyarakat kita telah beramai-ramai dan berlomba-lomba untuk menabung di bank dunia, mereka dibuai oleh iming-iming bunga yang hanya sedikit sekali, mereka telah terjebak oleh propaganda dunia dengan berbagai perumpamaan-perumpamaan yang menyesatkan, seperti jika kita ingin kaya maka rajinlah menabung, padahal ini sangat bertentangan dengan konsep Agama Islam, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Sahabat, “Bagaimana caranya ya Rasul agar kita menjadi kaya?”, maka Rasul menjawab : “Banyak-banyaklah kamu bersedekah.” Melihat konsep diatas sangatlah bertolak belakang bukan?, tetapi kita sebagai Muslim yang cerdas haruslah cepat tanggap dan berfikir cepat, serta belajar dan belajar menuntut ilmu Agama Islam yang benar.


Saudara dan saudariku sesama Muslim, banyak dari kita yang beranggapan bahwa jika kita ingin kaya, maka kita harus rajin menabung dan kenyataannya mereka berlomba-lomba untuk menabung di bank-bank(kami tidak membahas masalah bank yang berhubungan dengan riba) yang ada, menumpuk-numpuk harta mereka dengan harapan mendapat bunga yang rata-rata berkisar 17% per tahun dan kita kaum Muslim semakin terlena dengan konsep yang ditawarkan oleh dunia tentang bagaimana menjadi sukses dan kaya, sehingga banyak dari kita melupakan dan menganggap sepi konsep yang ditawarkan ALLAH tentang bagaimana menjadi muslim yang sukses dan kaya, kalau kita mau mempelajari dan meyakini salah satu konsep yang ALLAH SWT tawarkan dalam Al-qur`an ternyata ALLAH menjanjikan hasil yang sangat luar biasa dari yang ditawarkan bank-bank didunia ini, dan janji ALLAH tentu pasti dan mutlak kebenarannya, marilah kita lihat dalam (Q.S Albaqarah 261) yang berbunyi :

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui".

Secara gamblang ALLAH SWT menerangkan dalam ayat diatas bahwa ALLAH SWT akan membalas sebanyak 700 kali lipat (sebutir benih, menumbuhkan tujuh bulir benih, tiap-tiap bulir ada seratus biji) dari harta yang kita belanjakan di jalanNYA, dan kalau di prosentase berarti sekitar 70.000% ganjaran yang diberikan untuk setiap kita membelanjakan harta kita dijalan ALLAH bukan per bulan ataupun per tahun, bandingkan dengan konsep dan hasil yang ditawarkan oleh bank-bank didunia yang hanya memberikan hasil berkisar 17% per tahun, sangat jauh dari yang ALLAH tawarkan pada kita, tetapi pada kenyataannya banyak dari kita yang lebih tertarik dan terlena pada konsep yang ditawarkan oleh dunia.

Saudara-saudariku sesama Muslim marilah selagi masih ada kesempatan menghirup udara dunia, perbanyaklah menabung untuk akherat lewat konsep yang ALLAH SWT tawarkan dalan Al-baqarah ayat 261, dengan jalan berbagi harta kita dengan orang-orang yang kurang beruntung lewat infaq, shadaqoh dan lain-lainnya, dan lebih utama lagi baik kita dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit maksudnya kita tetap beramal disaat kita kelebihan harta, pas-pasan ataupun dalam kekurangan harta, karena dalam dialog iblis dengan Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW bertanya pada iblis :

Hai iblis apa yang kau rasakan jika umatku bersedekah ?

"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji."

"mengapa bisa begitu? " tanya Nabi Muhammad SAW lagi.

"sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."

Itulah keuntungan lain yang ALLAH janjikan jika kita mau dan ikhlas membelanjakan harta kita di jalan ALLAH selain balasan yang 70.000% ada fasilitas lain yang ALLAH janjikan yaitu :

1. keberkahan dalam hartanya,

2. hidupnya disukai

3. harta yang kita belanjakan di jalan ALLAH SWT akan menjadi penghalang antara diri kita dengan api neraka.

4. Yang terpenting dan banyak orang inginkan adalah, bahwa sedekah bisa menjadi alat untuk terhindar dari segala macam musibah dan bencana yang akan menimpa kita, inilah asuransi yang dijanjikan oleh ALLAH pada kita jika kita mau membelanjakan harta kita dijalanNYA.

Saudara-saudariku sesama Muslim marilah sebelum waktu kita didunia ini benar-benar berakhir, pertanda bahwa segala upaya kita mencari bekal untuk kehidupan akherat telah berakhir pula, segeralah kita sambut dengan konsekwen semua konsep yang ditawarkan ALLAH pada kita, jangan ditunda-tunda lagi karena sang kematian telah dengan setia menanti kita di ujung waktu tanpa kita sadari, bagi yang masih awam segeralah tuntutlah dan pelajari agama Islam yang benar yang sesuai Al-qur`an dan Sunnah Rasul, bagi yang telah sampai dan mendapatkan ilmu segera amalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh konsekwen, memang berat sekali dan kenyataannya sangat sedikit orang-orang yang mau mengikuti konsep ALLAH SWT dengan sabar dan istiqomah, sebagian besar dan kebanyakan mendurhakai dan mengabaikan konsep yang ditawarkan oleh ALLAH lewat Al-qur`an dan Sunnah Rasul, dan marilah berdo`a semoga kita termasuk dalam golongan yang sedikit itu.

Saudara dan saudariku sesama Muslim sebagai penutup marilah kita baca kisah shahih berikut ini,

“ Pada jaman dahulu ada seorang pelacur wanita yang sedang berjalan pulang, dalam perjalanan pulang tersebut si pelacur bertemu dengan anjing yang sedang sangat kehausan didekat sebuah sumur, karena sumur tersebut sangat dalam maka anjing tersebut tidak dapat menjangkau air untuk diminum, melihat anjing tersebut si pelacur merasa sangat iba, kemudian dengan menggunakan terompahnya (sandal) sebagai alat untuk mengambil air dan ia merobek syal atau selendangnya yang terbuat dari sutera sebagai tali untuk mengambil air pada sumur tersebut, setelah air bisa diambil maka dengan terompahnya perempuan pelacur tersebut meminumkan pada anjing yang sedang sangat kehausan dan hampir mati, setelah anjing tersebut merasa cukup maka pergilah anjing tersebut., dan ternyata dikarenakan si pelacur menolong anjing yang sedang kehausan maka ALLAH SWT menjanjikan Surga untuknya, dan pelacur tersebut masuk Surga dikarenakan menolong seekor anjing yang sedang kehausan.

Sudara dan saudariku sesama Muslim pertanyaan yang cerdas dan sederhana adalah, apakah kita tidak masuk Surga jika kita mau menolong saudara kita yang kekurangan, apakah kita tidak masuk surga jika mau dan ikhlas membantu adik, kakak, keponakan, atau tetangga disekitar kita yang sedang membutuhkan pertolongan baik itu harta maupun tenaga, sedangkan ALLAH saja menjanjikan Surga pada seorang pelacur yang hanya menolong seekor anjing yang sedang kehausan, apalagi kita yang membantu dan menolong sesama manusia?

Agar tida rancu bagi yang tidak berilmu atau belum sampai ilmunya, bahwa kisah wanita pelacur yang masuk Surga karena menolong seekor anjing yang sedang kehausan itu terjadi bukan pada jaman Nabi Muhammad SAW, Sedangkan kita yang hidup dalam naungan umat Nabi Muhammad SAW, tentu ada persyaratan lain jika kita ingin masuk Surga selain menolong sesama manusia kita juga harus tetap menegakan Shalat, Zakat, dan Puasa di bulan Ramadhan.

Mohon Masukan dan kritiknya


Smart Moslem9


MASALAH KHILAFIYAH DIPANDANG DARI SUDUT AL-QUR`AN DAN HADITS

Posted on 20.58 by SMART MOSLEM

Argumen dan stateman yang berkembang saat ini dikalangan umat muslim adalah, bahwa masalah khilafiyah janganglah dipersoalkan atau diperdebatkan karena demi terjaganya kerukunan dan persatuan intern umat muslim yang diharapkan, bahwa seyogyanya masalah khilafiyah jangan diterangkan, tapi apakah konsep ini sama dengan kemauan ALLAH??, lewat (Q.S Al-Hasy-r ayat 14) ALLAH menyatakan dan menerangkan statemanNYA yang berbunyi sebagai berikut :

…………………”Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.”

Saudara dan saudariku sesama Muslim, perhatikanlah dengan seksama Firman ALLAH SWT diatas, dapat kita ambil pengertian bahwa tidak selamanya persatuan itu dapat membawa kemajuan, oleh karena itu tidak selamanya pula pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” itu selalu benar, sebab sering terjadi justru bersatu kita jatuh, apa sebabnya, persatuan dalam perpecahan, kerukunan dalam permusuhan keadaannya sungguh tidak berbeda dengan kawin paksa, sungguh sedikitpun tidak ada manfaatnya, sekalipun ukhuwah Islamiyah yang dikemukakan itu hanya sekedar semboyan hampa, yang hanya menguntungkan golongan orang-orang yang munafik dan orang-orang yang fasik.

Dalam persoalan persoalan persatuan semacam inilah ALLAH SWT menegaskan sebagaimana tertera pada ayat tersebut diatas, dan untuk itulah ALLAH SWT memberi peringatan kepada kita ummat Islam dengan firmanNYA dalam Al-qur`an (Q.S Ali-Imran ) yang berbunyi sebagai berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan sebagai sahabat karibmu selain dari kalanganmu sendiri, mereka tidak henti-hentinya(berikhtiar dan berupaya akan)membawa kamu kedalam bencana, mereka menyukai sesuatu yang menyusahkan kamu, sesungguhnya kebencian telah terbit dari mulut mereka tetapi apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar, Telah Kami jelaskan padamu tandanya, jika sekiranya engkau mau menggunakan akal”.

Perhatikanlah isi ayat tersebut, bahwa kebenaran dari peringatan yang diberikan ALLAH SWT pada ayat tersebut diatas dapat kita lihat dan kita pikirkan dan dapat kita buktikan kebenarannya dalan tarikh atau sejarah, Lihatlah kemenangan Nabi Musa AS dalam melawan kedholiman raja Fir`aun Laknatullah, terjadi setelah Nabi Musa AS berpisah dengan kaum fasiqien (yang melampaui batas dan durhaka), beliau menghindarkan diri dari rangkulan lawan yang melumpuhkan perjuangan beliau, beliau menjauhi persatuan yang merugikan dan dalam stuasi yang demikian ini Nabi Musa AS berdo`a sebagaimana yang tercantum dalam (Q.S Al-Maidah ayat 25) yang berbunyi sebagai berikut :

“ Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu"

Perhatikan ayat tersebut diatas, bahwa sesungguhnya persatuan itu bukanlah tujuan, tapi persatuan itu adalah akibat, oleh karena itu bersatu bukan hanya sekedar bersatu sebagaimana bersatunya air dalam kolam tanpa pelepasan tetapi bersatu untuk bergerak menuju suatu muara yang merupakan tujuan bersama.

Bersatu adalah untuk menyusun potensi dan tenaga yang kemudian dapat mempermudah dan mempercepat proses dalam mencapai hasil. Persatuan atau kerukunan yang hanya berbentuk sebagai air yang tergenang tidaklah memberikan suatu manfaat dan kekuatan, persatuan dan kerukunan air yang tidak memiliki pelepasan untuk bergerak hanyalah akan menimbulkan wabah dan berbagai penyakit, maka tidak heran kalau persatuan yang semacam itu mudah sekali disalah gunakan, dalam gerakan untuk mencapai suatu tujuan yang jahat (Bermaksiat kepada ALLAH SWT).

Ingatlah wahai saudara dan saudariku sesama Muslim persatuan yang sebenarnya hanya akan terwujud dalam kalangan orang yang memiliki persamaan tujuan dan jalan dan terjadi dalam lingkungan orang yang hendak membela kebenaran agama ALLAH SWT yaitu Islam, dengan jalan yang benar dan diridhai, dalam arti benar yaitu menurut tuntunan Al-qur`an dan Al Hadits yang syah dan Shakhih, tidak membuat aturan-aturan dan tata cara sendiri menurut kemauan dan hawa nafsunya.

Membela haq dengan jalan haq, tidak dengan jalan menipu rakyat, tidak menggunakan agama sebagai topeng belaka, tidak pula dengan jalan menyebar bid`ah, khurafat, takhayul dan syirik (yang bukan aturan agama dianggap bagian dari agama, sedangkan mereka tidak menyadarinya).

Membela keadilan dengan jalan keadilan menurut Al-qur`an dan Hadits, akibatnya terjadilah suatu persatuan rasa, persepsi, suara dan usaha yang mengarah pada tujuan “MARDLATILLAH” melalui jalan yang sama yaitu SHIRATHAL-MUSTAQIEM dengan rasa tanggung jawab dihadapan ALLAH SWT pada hari kemudian, karena ALLAH dan RasullNYA tidak pernah menciptakan jalan yang berbeda untuk menuju ke hadiratNYA, seperti alasan-alasan yang sering diungkapkan untuk meredam KHILAFIYAH, padahal itu jelas menyesatkan ummat Islam. Sering kita dengar dari para ulama yang menyatakan tentang khilafiyah, “nggak usah diributkan orang Islam tata caranya berbeda, tapi tujuannya kan sama”, jelas sekali pernyataan ini adalah sangat keliru dan bertentangan dengan Al-qur`an dan Hadits Shakhih, yang mengharuskan kita tidak boleh bercerai berai dan tetap berpegang pada tali yang satu, bukankah Shirathal Mustaqien artinya jalan yang lurus bukan jalan yang berbelok-belok penuh tikungan yang dibuat-buat oleh manusia itu sendiri.

Ingatlah bahwa bersatu menyuarakan Al-qur`an dan Sunnah Rasul dan semuanya bergerak dengan nada yang sama atas usaha dan ikhtiar yang halal dan benar, demikianlah terwujudnya persatuan dan keadilan yang bergerak membela kebenaran dan keadilan yang selaras dengan harmoni sifat Nabi Muhammad SAW.

Membela haq dengan jalan haq, tidak dengan model bil-hikmah, Agama ALLAH disesuaikan dengan adat istiadat setempat, yang tidak diridhai ALLAH SWT, sebagaimana amalan-amalan bid`ah, khurafat, takhayul dan syirik dengan menyelengggarakan peringatan Isra` Mi`raj, mengadakan Mauludan, Nuzulul Qur`an, marhabanan dan lain sebagainya. Jadi bukanlah harus gembar-gembor dan berkoar-koar tentang persatuan dalam kalangan umat Musyrikah terutama umat Islam dengan melontarkan issue-issue kerukunan antar umat seagama baik yang bersifat nasional maupun intern untuk kalangan Ormas 0rmas dan partai-partai politik yang bernuansa Islam.

Ketahuilah saudara dan saudariku sesama Muslim, bahwa di dalam Al-qur`an tidak ada dan tidak terdapat perintah dengan kalimat “Bersatulah atau Rukunlah, akan tetapi yang kita dapati dalam Al-qur`an adalah Firman ALLAH SWT yang berbentuk larangan agar jangan bercerai berai dan ber firqoh-firqoh (berkelompok).


Suatu analogi adalah orang Yahudi berkata bahwa Nabi Ibrahim AS itu adalah seorang Yahudi, kemudian orang Nasrani (Kristen) menyatakan pula bahwa Nabi Ibrahim AS adalah seorang Nasrani, selanjutnya ALLAH SWT berfirman dalam Al-qur`an bahwa Nabi Ibrahim AS itu adalah HANIFAN-MUSLIMAN, apakah dengan keadaan seperti itu kesemuanya menjadi benar???

Orang Yahudi mendustakan Nabi Isa AS, sedangkan orang Nasrani menyatakan bahwa Nabi Isa AS adalah Tuhan Yesus, kemudian dalam Al-qur`an ALLAH menerangkan bahwa Nabi Isa AS adalah seorang manusia biasa, hamba ALLAH yang terpilih menjadi Nabi dan RasulNYA, apakah semuanya salah???, Apakah semuanya benar???, siapakah sebenarnya yang ikhtilaf???, oleh karena itu ALLAH SWT memerintahkan untuk bersatu dengan menjalankan syarat-syarat yang tercantum dalam Al-qur`an (QS. Ali-Imran 103) yang berbunyi sebagai berikut :

"Dan berpeganglah kamu dengan tali ALLAH dan janganlah kamu berpisah-pisah (bercerai-berai)"

Maksud ayat diatas adalah meninggalkan kebenaran yang telah diperintahkan untuk kamu pegang, dan tetap menomor satukan Al-qur`an dan Hadits Rasul SAW yang shakhih, janganlah kita berbeda dengan dasar hawa nafsu belaka.

Saudara-saudariku sesama Muslim yang dimuliakan ALLAH, bahwa jalan untuk menuju ridha ALLAH adalah Cuma satu, yaitu jalan yang dibuat oleh ALLAH lewat perantaraan Nabi Muhammad SAW, yang terurai dalam Al-Qur`an dan Hadits Shahih, jadi kalau ada yang berpendapat bahwa jalan menuju ALLAH itu banyak dan dengan cara yang berbeda-beda, maka jelas itu merupakan suatu pendapat yang sangat keliru dan hanya merupakan pendapat yang dibuat atas dasar prasangka belaka.

Mohon Masukan dan kritiknya.
Terimakasih
Smart moslem9


MENGAPA PERINGATAN ISRA`- MI`RAJ DIKATEGORIKAN BID`AH ???

Posted on 06.30 by SMART MOSLEM | 1 komentar

Saudara dan saudariku sesama Muslim, pada tulisan kali ini kami akan sedikit mengulas beberapa contoh perbuatan yang dianggap bid`ah dan dasar-dasar hukumnya serta sejarah yang melatar belakangi kenapa hal itu dilakukan ,sedangkan nabi Muhammad dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya, tetapi sekarang kok banyak dilakukan oleh sebagian besar umat Muslim khususnya di Indonesia, baiklah agar kita tidak penasaran akan kita bahas satu persatu.
  • Masalah TAHLIL
Sampai sekarang kami belum pernah membaca atau memperoleh sesuatu fatwa dari para ulama Mutaqaddimin(terdahulu) atau ulama Mutaakhkhirin(zaman sekarang) yang membolehkan orang berkumpul dan makan-makan sambil berdo`a dan membaca surat Yassin dirumah orang Muslim yang sedang ada kematian.
Cuma permasalahannya sekarang masih ada orang-orang yang membaguskan dan membenarkan bahkan menyatakan bahwa perbuatan kumpul-kumpul dan tahlilan sambil makan-makan di rumah orang yang sedang dilanda kematian itu adalag sesuatu sunnah dari Rasulullah SAW.
  • Menurut keterangan dari Madzab yang keempat, yaitu Syafi`ie,Maliki, Hanafi dan Hambali, tidak terdapat satupun keterangan yang membolehkan menahlilkan orang yang sudah mati dan kumpul-kumpul untuk makan-makan dsirumah orang yang sudah mati bahkan dari tujuh hari sampai empat puluh hari dst.
  • Jadi orang-orang yang membagus-baguskan bahkan menyatakan bahwa perbuatan tersebut bersumber dari Madzab yang empat, dengan sendirinya mereka bertentangan dengan fatwa keempat madzab tersebut, tegasnya mereka menentang Madzab yang keempat.
  • Didalam kitab-kitab dari Imam-Imam pengikut Madzab yang empatpun tidak ada yang membolehkannya, bahkan sebaliknya mereka melarangnya karena Rasullulah dan para sahabatnya tidak pernah melakukan tahlilan.
Didalam kitab “IANATUTTOLIBIEN” juz II, halaman 145 dan 146, dari fatwa-fatwa mufti-mufti Mekkah pengikut Madzab yang empat, diantaranya,
fatwa dari Mufti Syafi`ie, Syyid Ahmad Zaini Dakhlan, mereka menyatakan :
  • Ya memang betul apa yang dikerjakan orang diwaktu berkumpul-kumpul dirumah orang yang sedang dilanda kematian serta menyediakan makanan, termasuk bid`ah munkaroh, yang diberi pahala kepada penguasa yang mencegah perbuatan tersebut.


  • Dan memang tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang yang mengerjakan bid`ah ini, itulah orang-orang yang sebenarnya termasuk menghidup-hidupkan Sunnah Rasul, memtikan segala bid`ah dan membuka pintu kearah kebaikan, dan menutup banyak pintu-pintu kearah kejahatan dan kesesatan.
Fatwa dari Mufti Hanafi, Maliki dan Hambali berkata :
  • Ya memeng betul, yang diberi pahala ialah penguasa yang melarang orang-orang yang mengerjakan perkara-perkara yang masuk bilangan bid`ah dan jelek menurut jumhur Ulama. Dari Mufti Syyid Maliki dan Mufti Sayyid Hambali, telah menjawab dengan jawaban yang sama
  • Jadi perhatikanlah wahai saudara dan saudariku sesama Muslim, dalam urusan agama, ibadah tidak boleh sekali-kali kita mengerjakan sesuatu amalan, melainkan ada perintah dari ALLAH dan RasulNya, mengerjakan sesuatu ibadah atau yang menyerupai ibadah padahal tidak ada perintah dari ALLAH dan tidak ada contohnya dari Rasullulah maka itu dinamakan bid`ah, setiap bid`ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya adalah di neraka.
Imam atau Madzab Maliki berkata dalam “Al-I`tisham” yang artinya adalah sebagai berikut :
  • “Barang siapa yang mengadakan suatu bid`ah, dalam bid`ah mana ia menganggap itu adalah bid`ah khasanah, maka seolah-olah ia menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW, telah mengkhianati ke-RasulanNya",
karena ALLAH SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah yang berbunyi :
  • “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agamamu, maka apa-apa yang bukan bagian dari agama Islam pada hari itu, tidak pula menjadi bagian dari agama pada hari ini".
Dari keterangan ini Madzab menyatakan bahwa bid`ah dalam agama adalah sesat semuanya dan tempatnya di neraka semuanya.
Dalam kitab “TIRYAQUN-NAFI”, Madzab Syafi`ie berkata :
  • “Barang siapa yang membaguskan sesuatu amalan yang menyerupai ibadah, padahal bukan syara` dari ALLAH dan RasulNya, sama saja dengan membuat agama baru”
Imam Royyani mengatakan :
  • “Barangsiapa yang membikin syara` (aturan sebagaimana agama, padahal bukan syara` dari ALLAH dan RasulNya), maka orang itu telah kafir”
Demikianlah pembahasan tentang tahlil, yang kami ambilkan dari sebagian dalil-dalil yang bersangkutan dengan masalah tahlil tersebut, mudah-mudahan para pembaca menjadi jelas.
  • Masalah ISRA` MI`RAJ dan RAJABIYAH
Rajabiyah berasal dari kata rajaban yang berarti malu, dan boleh juga diartikan sebagai mulya, karena diambil dari kata tarjib, yang artinya ta`dhim, maksudnya ialah memulyakan bulan rajab, yaitu yang terletak antara bulan jumadil-akhir dan bulan sya`ban.
Adapun apa sebabnya bulan ini disebut demikian, karena dahulu di zaman bahari, suku golongan Mudhor yaitu sebuah kabilah di tanah Arab, mempunyai adat cara kebiasaan merayakan dan memuliakan bulan Rajab, sampai masyhur dan popular dan orang menyebutnya dengan Rajab Mudhor.
Kemudian pada zaman jahiliyah, orang Arab Quraisy (Mekkah) pun pada tiap tanggal 10 bulan Rajab selalu menyelenggarakan sembelihan serta nadzar untuk kebaktian yang ditujukan pada Dewa-dewanya, upacara tersebut dinamakan Rojabiyah, yang bila kita terapkan atau kita samakan dalam tata cara orang Indonesia sekarang disebut Rajaban atau Isra` Mi`raj.
Perayaan Rajaban atau Isra` Mi`raj plus sembelihan Rajabiyah dinamakan AL-ATIRAH, sembelihan tersebut biasanya diselenggarakan oleh golongan-golongan orang kaya, sembelihan atirah untuk berbakti pada dewa-dewa atau patung-patung yang dipuja-puja dengan upacara diambil darahnya, yang kemudian dipergunakan untuk melumuri berhala-berhala yang didewa-dewakan dan disembah oleh mereka, dan upacara atirah masih juga berlangsung ketika Islam mulai lahir, dan upacara tersebut masih dijalankan oleh orang-orang pada waktu itu, baru kemudian setelah datangnya larangan dari Nabi Muhammad SAW maka upacara atirah tersebut telah dihapus dan tidak dilakukan lagi sebagaimana yang tertulis dalam kitab Bukhari dan Muslim yang berbunyi :
  • “Tidak ada fara`, dan tidak ada atira (sembelihan)
dan diantaranya dalam kitab DURRATUN NASHIMIN diriwayatkan bahwasanya atirah pada zaman jahiliyah ialah berpuasa pada tiap bulan Rajab dan sambil menyelenggarakan upacara sembelihan serta suatu perayaan untuk memuliakannya, demikianlah asal-usul upacara dan memuliakan bulan Rajab.
Berdasarkan riwayat tersebut tidak ada dalam agama Islam yang dasarnya Al-qur`an dan hadits yang shakheh dan tidak ada satupun dari hadits yang shakheh yang menerangkan sunnah puasa di bulan Rajab, jadi teranglah bahwa puasa rajabiyah adalah suatu amalan yang bid`ah, bid`atun, munkarotun, dholatun, mubinatun, padahal ada sebagian mubaligh yang menerangkan dimuka umum bahwa puasa Rajab adalah sunnah, jelas sekali bahwa mubaligh tersebut benar-benar telah langcang.
  • Tolong diperhatikan, sejak zaman Rasulullah SAW, berkembangnya agama Islam hingga abad ke tiga, tidak ada suatu upacara Rajabiyah atau peringatan Isra`-Mi`raj, demikian pula upacara perayaan Muludan dan Sya`ban, baca surat Yasin dan sebagainya yang dihubungkan dengan kepentingan agama. Pada zaman para Imam-Imam atau Madzab yang empat pun, perayaan Isra` Mi`raj, Rajabiyah, tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi, karena memang bukan bagian dari agama Islam, maka kini jelaslah setelah abad ke tiga yakni pada permulaan abad ke empat, perayaan tersebut baru muncul dan tumbuh dengan pesat sampai Indonesia, bersamaan dengan itu muncul pula Hadits maudhu` (palsu) yang memang diciptakan untuk mendukung perayaan-perayaan tersebut,.
Sebagai salah satu contoh dari Hadits maudhu` yang mendukung perayaan Rajaban adalah sebagai berikut : “Aku (Nabi Muhammad SAW) telah melihat pada malam aku Mi`raj sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih dingin daripada sallju dan lebih harum daripada misik, aku berkata pada Jibril : untuk siapakah ini, mlaikat Jibril menjawab : untuk orang-orang yang bershalawat atas engkau (Muhammad SAW) pada bulan Rajab.
Demikianlah salah satu contoh Hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang akan merusak agama ALLAH, mencampur adukan yang benar dan yang salah, padahal ucapan tersebut tidak pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW, tidak pernah didengar oleh Sahabat dan tidak dikenal oleh para Madzab yang empat, Hadits tersebut terutama tentang puasa bulan Rajab tiba-tiba muncul pada abad ke empat dan disebarkan oleh ulama-ulama yang tidak mengerti tentang Hadits, dan dianjurklan kepada saudara-saudariku sesama Muslim yang masih awam, agar lebih berhati-hati dalam menyikapi beberapa hadits yang palsu, tetaplah kita menuntut ilmu tentunya ilmu agama Islam yang benar, atau ikuti terus situs smartmoslem9, yang mudah-mudahan dalam waktu dekat akan mengupas tentang Hadits.
Tulisan berikut akan membahas masalah bid`ah yang lainnya
Bersambung……..
Semoga bermanfaat
Mohon masukan dan kritiknya

DETIK-DETIK TERAKHIR MENJELANG WAFATNYA RASULULLAH SAW

Posted on 07.39 by SMART MOSLEM

qky8pwi9b2

Kepada saudara dan saudariku sesama Muslim, kita semua tahu bahwa kematian selalu setia menanti diujung kehidupan, tapi kita tidak tahu dengan pasti dimanakah ujung dari kehidupan kita, yang pasti adalah bahwa kematian datangnya lebih cepat daripada yang kita duga dan sangka, kebanyakan dari kita mungkin masih merasa bahwa kematian datangnya masih sangat jauh, kita masih terlena dengan dunia, kita masih terlena dengan apa-apa yang belum kita capai didunia ini, kita ingin hidup seribu tahun lagi kata sang pujangga, tetapi tanpa kita sadari, bahwa dengan berlalunya waktu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam tanpa terasa bahwa kita sedang mendekat kepada ajal.

Saudara dan saudariku sesama Muslim, setiap kita pasti akan mati, Cuma yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah kita dalam hidup ini telah mempersiapkannya dengan seimbang, maksudnya untuk kehidupan dunia kita perlu bekerja keras untuk meraih harta sebanyak mungkin dengan cara yang halal tentunya, untuk diri kita keluarga kita dan orang-orang disekeliling kita yang kurang beruntung, tetapi disisi lain apakah bekal untuk kehidupan yang abadi apakah juga dicari seperti ilmu agama sebagai bekal untuk kehidupan yang lebih abadi akherat. Jujur saja ternyata tidak semua dari kita khususnya kaum muslim yang menjalankannya dengan seimbang, kebanyakan dari kita malah terseret untuk mengurusi urusan dunia saja dan akherat terlupakan.


Maka dari itu sebelum ajal benar-benar mendatangi kita, segeralah bangkit dari yang hanya mementingkan urusan dunia, berikut ini ada sekelumit kisah detik-detik terakhir menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang merupakan figur dan tauladan serta pemimpin dari seluruh makhluk di alam semesta ini, bagaimana beliau berhadapan dengan malaikat maut, berikut kisahnya,……


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak
mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah
yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata
dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah
yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah
menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
"Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih
penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah
berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan
ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata
Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang
tidak tertahankan
lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan
telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
"peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."


Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii,ummatii, mmatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mu lia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Seorang Nabi Besar Pemimpin Uman manusia sedunia dalam berhadapan dengan sakaratul maut merasakan sakit yang luar biasa, apalagi kita manusia biasa yang penuh dosa, semoga sekelumit kisah diatas dapat menyadarkan kita untuk selalu ingat pada kematian, dan berusaha mencari bekal ilmu agama untuk menghadapi maut.

Semoga bermanfaat


”Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran
untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.

MEMBEDAH AKAR BID`AH

Posted on 16.31 by SMART MOSLEM

Ali Hasan Al Halabi Al Atsari


“Sedikit dan sesuai Sunnah Lebih Baik daripada Banyak Tetapi Bid`ah”

Segala puji bagi ALLAH yang telah menyempurnakan agama Islam dan dengan itu Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita semua serta meridhai Islam sebagai agama kita. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan seluruh umat Islam, yang jika berteladan kepadanya, kita tidak akan tersesat untuk selamanya, para sahabat serta pengikutnya yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnahnya serta selalu berjuang untuk menghidupkannya dan menumpas seluruh bentuk bid`ah yang bukan dari ajarannya.

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW, seburuk-buruk perbuatan adalah perkara yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat dan setiap kesesatan akan masuk neraka.

Merebaknya berbagai kejahatan dan maksiat telah membuat sebagian besar manusia melihat, bila seorang Muslim jatuh ke dalam bid`ah jauh lebih baik daripada terjatuh kedalam maksiat. Padahal pandangan tersebut bertolak belakang dengan pandangan para salafus shaleh yang merupakan teladan bagi kita dalam mengamalkan agama Islam ini. Sebagai contoh adalah pernyataan-pernyataan mereka berikut ini :

Sufyan Ats-Tsauri berkata : “Bid`ah lebih disukai iblis daripada maksiat, sebab maksiat akan ditaubati, sedang bid`ah tidak akan ditaubati”.

Ada sebagian ahli bid`ah datang kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan berkata, “Kami membuat manusia bertaubat,

“Maka beliau berkata, “Dari apa kalian membuat mereka bertaubat?” Ia berkata,”Dari merampok, mencuri, dan lain-lain,”beliau berkata, “Kondisi mereka sebelum kalian taubatkan adalah lebih baik daripada kondisi mereka setelah kalian taubatkan, sebab dulu mereka orang-orang fasiq yang meyakini haramnya sesuatu yang mereka lakukan dan mereka mengharapkan rahmat ALLAH dan bertaubat kepada-Nya, atau mereka mempunyai niat untuk taubat, lalu kalian jadikan mereka dengan taubat yang kalian sebutkan sebagai orang-orang yang sesat, musrik dan keluar dari syari`at Islam, Mereka mencintai apa yang dibenci ALLAH dan membenci apa yang disukai ALLAH, dan saya menjelaskan bahwa bid`ah-bid`ah yang mereka lakukan dan juga oleh selain mereka, adalah lebih buruk daripada bentuk-bentuk maksiat.”

Kesimpulannya, bahwa bid`ah lebih besar bahayanya dari maksiat, sebab bid`ah menyentuh dasar agama, sedangkan maksiat berkaitan dengan pribadi orang yang maksiat, lalu boleh jadi dia kembali darinya karena mengetahui bahwa yang dilakukannya dibenci oleh ALLAH dan disenangi iblis.

Adapun orang yang melakukan bid`ah, pada umumnya atau sebagian besar tidak akan meninggalkannya karena mengira hal itu sebagai kebajikan yang diridhai ALLAH dan dibenci orang yang lalai, dan bid`ah akan menular dari satu orang kepada orang lainnya, jika ia bersih darinya(pelaku bid`ah), maka orang lain akan menjadi najis karenanya.”

Walaupun bid`ah itu jelas-jelas merupakan kesesatan yang nyata, namun dalam menyadarkan pelakunya, kita tetap diperintahkan oleh ALLAH untuk menda`wahi mereka dengan penuh hikmah, nasehat yang baik dan berdebat dengan cara yang baik pula, karena ketika kita menda`wahi orang kafir saja kita diperintahkan untuk berlemah lembut, tentu kita harus lebih lemah-lembut lagi dalam menasehati sesame Muslim, sebagaimana dikatakan dalam Al-qur`an bahwa orang-orang Muslim itu keras kepada orang-orang kafir, namun lemah-lembut terhadap sesama Muslim.

Da`wah yang penuh bijaksana akan lebih mudah diterima daripada da`wah yang kasar dan sporadis, sebagaimana Firman ALLAH SWT dalam (QS. Ali Imran : 159)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Akhirnya semoga kita termasuk orang yang berjuang menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, juga berjuang membasmi setiap bentuk bid`ah yang disusupkan kedalam ajaran agama Islam oleh orang-orang yang memusuhi Islam atau oleh orang-orang yang lalai, Jika tidak maka ALLAH akan senantiasa membangkitkan pada setiap masa orang-orang yang akan melakukan itu semua, sehingga ajaran Islam tetap utuh dan terjaga, dan kitapun dapat meyakini bahwa ajaran agama Islam yang ada sekarang ini adalah sama persis dengan ajaran yang dipahami oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, dan inilah salah satu mukjizat yang ALLAH berikan kepada umat ini, selanjutnya akan kita berikan gambaran secara gambling bagaimana hakikat bid`ah, bagaimana membedakan antara bid`ah dan sunnah serta bagaimana agar kita selamat dari semua bentuk-bentuk bid`ah yang busuk itu.


KESEMPURNAAN DAN KECUKUPAN SYARI`AH

ALLAH berfirman dalam (QS. Al-Maidah: 3) yang berbunyi :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Ayat yang mulia ini menunjukan tentang kelengkapan dan kesempurnaan syari`at serta kecukupannya dalam segala hal yang dibutuhkan orang-orang dimana mereka diperintahkan ALLAH untuk mengabdi kepada-Nya seperti ditegaskan dalam Firman ALLAH SWT dalam (QS. Adz-Dzariat: 56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Ketika menjelaskan ayat ke-tiga dari surat Al Maidah tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :

“Ini adalah nikmat yang terbesar dari berbagai nikmat yang ALLAH berikan kepada umat ini, Yaitu ALLAH telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan Nabi selain Nabi Muhammad SAW, oleh karena itulah, ALLAH menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram melainkan apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari`atkannya."

Setiap hal yang disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah benar dan tepat, tanpa ada kebohongan dan kekeliruan sedikitpun didalamnya, ALLAH berfirman ,

”Dan sempurnakanlah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil.”

Artinya, benar dalam berita serta adil dalam perintah dan larangan-Nya. Maka ketika ALLAH menyempurnakan agama bagi umat Islam, berarti telah sempurna pula nikmat yang ALLAH berikan kepada mereka.

Karena itu , tidak dibenarkan jika seseorang membuat ketentuan baru dalam syari`at, sebab menambahkan syari`at berarti mengkoreksi dan menyalahkan ALLAH dan memberi pengertian bahwa syari`at masih kurang dan belum lengkap, tindakan tersebut jelas bertolak belakang dengan apa yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur`an, Maka tidak terbayangkan bila manusia menambahkan syari`at ALLAH dan dianggap tidak tercela.

Pemahaman ini adalah pemahaman yang diyakini oleh semua ulama Islam, dan segala puji bagi ALLAH, tetapi sayang kebanyakan manusia mengingkarinya, sebagaimana dalam Firman ALLAH SWT:

“Dan mereka mengingkari karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini kebenarannya”

Bersambung

KEISTIMEWAAN WANITA DIMATA ALLAH SWT

Posted on 06.50 by SMART MOSLEM

Saudara dan saudariku sesama Muslim, salah satu sifat dari ALLAH SWT adalah Maha adil dan Maha bijaksana bagi seluruh makhluk di alam semesta ini, ALLAH SWT menciptakan Wanita dengan berbagai kelemahannya, yang secara kodrat memang wanita adalah makhluk yang diciptakan untuk mengabdi dan mengikuti suami (jika suaminya mengajak pada ketaqwaan pada ALLAH SWT), Tetapi disisi lain ALLAH menempatkan wanita pada posisi yang istimewa dibandingkan dengan Lelaki, apa sajakah keistimewaan Wanita tersebut di Mata ALLAH SWT :

1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut,jawab baginda: "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 orang lelaki yang soleh.

3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takutkan Allah SWT dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS

5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam syurga.

6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

7. Dari Aisyah r.a. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

9. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan (serta menjaga shalat dan puasanya).

12. Aisyah r.a berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW,siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab baginda, "Suaminya." "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah SAW "Ibunya."

13. Perempuan apabila shalat lima waktu, puasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.

14. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT.

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

17. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

18. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.


Semoga para pembaca (khususnya wanita), selalu dilindungi ALLAH SWT untuk menjadi Wanita yang solehah sampai ajal menjemput, dan masuk Syurga dari semua pintu yang dikehendakinya dengan tidak dihisab.


Aminnn

Semoga Bermanfaat, Mohon masukan dan kritiknya

Smart Moslem