SHALAT DALAM KORIDOR AL-QUR`AN DAN SUNNAH

Posted on 18.41 by SMART MOSLEM

DEFINISI SHOLAT

Sholat berasal dari bahasa Arab
As-Sholah

Definisi (ta'rif/pengertian):

Sholat secara Bahasa (Etimologi) berarti Do'a
Sedangkan secara Istilah/Syari'ah (Terminologi), sholat adalah perkataan dan perbuatan tertentu/khusus yang dibuka/dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) diakhiri/ditutup dengan salam.
Sholat merupakan rukun perbuatan yang paling penting diantara rukun Islam yang lain sebab ia mempunyai pengaruh yang baik bagi kondisi akhlaq manusia. sholat didirikan sebanyak lima kali setiap hari, dengannya akan didapatkan bekas/pengaruh yang baik bagi manusia dalam suatu masyarakatnya yang merupakan sebab tumbuhnya rasa persaudaraan dan kecintaan diantara kaum muslimin ketika berkumpul untuk menunaikan ibadah yang satu di salah satu dari sekian rumah milik Allah subhanahu wa ta'ala (masjid).

HUKUM SHOLAT

Melaksanakan sholat adalah wajib (fardlu) 'aini bagi setiap orang yang sudah mukallaf (terbebani kewajiban syari'ah), baligh (telah dewasa/dengan ciri telah bermimpi), dan 'aqil (berakal).
Allah berfirman:

"Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka hanya beribadah/menyembah kepada Allah sahaja, mengikhlaskan keta'atan pada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan hanif (lurus), agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, demikian itulah agama yang lurus". ( Surat Al-Bayyinah:5).

PENETAPAN SHOLAT

Diantara sekian banyak bentuk ibadah dalam Islam, sholat adalah yang pertama kali di tetapkan kewajibannya oleh Allah subhanahu wa ta'ala, Nabi menerima perintah dari Allah tentang sholat pada malam mi'raj (perjalanan ke langit) tanpa perantara.
Anas berkata:

"sholat diwajibkan kepada Nabi sebanyak 50 reka'at pada malam ketika beliau diperjalankan (isra'-mi'raj), kemudian dikurangi hingga menjadi tinggal 5 roka'at kemudian ada yang menyerunya: Wahai Muhammad hal tersebut tidak seperti harapanku namun bagimu yang 5 roka'at itu setara dengan 50 roka'at."
(Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

HIKMAH SHOLAT

Sholat disyari'atkan sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah, untuk menghilangkan dosa-dosa, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya yang dengannya bisa seseorang terbersih dari dosanya dan tersucikan dari kesalahan-kesalahannya dan terajarkan akan ketaatan dan ketundukan.
Allah telah menentukan bahwa sholat merupakan syarat asasi dalam memperkokoh hidayah dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

"Alif Laaam Miiim. Kitab (Al Qur-an) tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al Baqarah : 1-2).

Di samping itu Allah telah mengecualikan orang-orang yang senantiasa memelihara sholatnya dari kebiasaan manusia pada umumnya: berkeluh kesah dan kurang bersyukur, disebutkan dalam fiman-Nya:

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka itu tetap mengerjakan sholat." (QS Al Ma'arij: 19-22).

KEDUDUKAN SHOLAT

Sholat merupakan salah satu rukun Islam setelah syahadatain. Dan amal yang paling utama setelah syahadatain. Barangsiapa menolak kewajibannya karena bodoh maka dia harus dipahamkan tentang wajibnya sholat tersebut, barangsiapa tidak meyakini tentang wajibnya sholat (menentang) maka dia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan sholat karena menggampang-gampangkan atau malas, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah.

Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Pemisah di antara kita dan mereka (orang kafir) adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).

Sholat dalam Islam mempunyai kedudukan yang tidak disamai oleh ibadah-ibadah lainnya. Ia merupakan tiangnya agama ini. Yang tentunya tidaklah akan berdiri tegak kecuali dengan adanya tiang tersebut.
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan:

"Pondasi (segala) urusan adalah Islam, dan tiangnya (Islam) adalah sholat, sedangkan yang meninggikan martabatnya adalah jihad fi sabilillah."(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Sholat merupakan kewajiban mutlak yang tidak pernah berhenti kewajiban melaksanakannya sekalipun dalam keadaan takut, sebagaimana firman Allah Ta'ala menunjukkan:

"Peliharalah segala sholat(mu), dan (peliharalah) sholat wustha. Jika kamu dalam keadaan takut (akan bahaya), maka sholatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (sholatlah) sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. AL-baqarah : 238 - 239).

Sholat adalah ibadah yang pertama kali diwajibkan Allah dan nantinya akan menjadi amalan pertama yang dihisab di antara malan-amalan manusia serta merupakan akhir wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya:

"Sholat, sholat dan budak-budak yang kamu miliki."
(HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Sholat yang nantinya akan menjadi amalan terakhir yang hilang dari agama ini. Jika sholat telah hilang, berarti hilanglah agama secara keseluruhan. Untuk itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dengan sabdanya:

"Tali-tali (penguat) Islam sungguh akan musnah seikat demi segera berpegang dengan ikatan berikutnya (yang lain). Ikatan yang pertama kali binasa adalah hukum, dan yang terakhir kalinya adalah sholat."(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

RUKUN-RUKUN SHOLAT

Rukun sholat adalah setiap bagian sholat yang apabila ketinggalan salah satunya dengan sengaja atau karena lupa maka sholatnya batal (tidak sah).

1. Berdiri bagi yang mampu, bila tidak mampu berdiri maka dengan duduk, bila tidak mampu duduk maka dengan berbaring secara miring atau terlentang.
2. Takbiratul Ihram ketika memulai sholat
3. Membaca Al Fatihah
4. Ruku
5. I'tidal
6. Sujud
7. Bangun dari sujud
8. Duduk diantara dua sujud
9. Tuma'ninah dalam setiap rukun
10. Tasyahud Akhir
11. Duduk Tasyahud Akhir
12. Shalawat atas Nabi pada Tasyahud Akhir
13. Tertib pada setiap rukun
14. Salam

HAL YANG WAJIB DALAM SHOLAT

Hal yang wajib dalam sholat adalah bagian sholat yang apabila ketinggalan salah satunya dengan sengaja maka sholatnya batal (tidak sah), tapi kalau tidak sengaja atau lupa maka orang yang sholat diharuskan melakukan sujud sahwi.

1. Semua takbir selain takbiratul ihram
2. Melafadzkan : SUBHANA RABBIYAL A'DZIIM pada saat ruku'
3. Melafadzkan : SAMI'ALLAHULIMAN HAMIDAH bagi Imam dan pada saat sholat sendiri
4. Melafadzkan : RABBANA WALAKAL HAMDU bagi Imam, makmum dan pada saat sholat sendiri
5. Melafadzkan : SUBHANA RABBIYAL A'LA pada saat sujud
6. Melafadzkan : RABIGHFIRLII pada saat duduk diantara dua sujud
7. Tasyahud awal
8. Duduk Tasyahud awal

HAL YANG SUNNAH DALAM SHOLAT

Hal yang sunnah dalam sholat adalah bagian sholat yang tidak termasuk dalam rukun maupun wajib, tidak membatalkan solat baik ditinggalkan secara sengaja maupun lupa.

1. Mengangkat kedua tangan ketika takbir.
2. Membaca do'a istiftah/iftitah
3. Membaca ta'awudz ketika memulai qiro'ah (bacaan)
4. Membaca surat dari Al-Qur'an setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang awal
5. Meletakkan dua tangan pada lutut selama rukuk
6. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri selama berdiri
7. Mengarahkan pandangan mata ke tempat sujud selama sholat (kecuali waktu tasyahud- pent)

HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT

1. Berbicara ketika sholat
2. Tertawa
3. Makan dan minum
4. Berjalan terlalu banyak tanpa ada keperluan
5. Tersingkapnya aurat
6. Memalingkan badan dari kiblat
7. Menambah rukuk, sujud, berdiri atau duduk secara sengaja
8. Mendahului imam dengan sengaja

HAL YANG MAKRUH DALAM SHOLAT

1. Memejamkan dua mata
2. Menoleh tanpa keperluan
3. Meletakkan lengan dilantai ketika sujud
4. Banyak melakukan gerakan yang sia-sia, misal: main-main dengan jam (melihat jam, mengakurkan jam, memperbaiki tali jam, membersihkan jam dll), mempermainkan baju, atau lainya

SHOLAT BERJAMAAH

a. Hukum Shalat Berjama'ah

Shalat berjama'ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin laki-laki, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama).

Hadits-hadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,
Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata,

"Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: 'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

"Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Darda' radhiallaahu anhu, ia berkata,

'Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama'ah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senan-tiasa bersama jama'ah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)'. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan )

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

'Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)

Dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, ia berkata,

"Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya". (HR. Muslim)

b. Keutamaan Shalat Berjama'ah

Shalat berjama'ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:
Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

"Shalat berjama'ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian". (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam,

"Shalat seseorang dengan berjama'ah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengu-capkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, 'Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.' Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci". (Muttafaq 'alaih)

c. Berjama'ah dapat dilaksanakan sekalipun dengan seorang makmum dan seorang imam Shalat berjama'ah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama'ah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhuma, ia berkata,

"Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam), kemudian Nabi shallallaahu alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya". (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiallaahu anhuma, keduanya berkata,

"Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa ba-ngun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjama'ah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah". (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallaahu anhu,

"Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, 'Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.' Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya". (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih)

Dari Ubay bin Ka'ab radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

"Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih mensucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jama'ah) semakin disukai oleh Allah Ta'ala". (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)

d. Hadirnya Wanita Di Masjid dan Keutamaan Shalat Wanita Di Rumahnya

Para wanita boleh pergi ke masjid dan ikut melaksanakan shalat berjama'ah dengan syarat menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan menim-bulkan fitnah, seperti mengenakan perhiasan, bersolek dan menggunakan wangi-wangian.
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak me-makai wangi-wangian." (HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih

Dan beliau juga bersabda:

"Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya' berjama'ah bersama kami." (HR. Muslim)

Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda:

"Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi." (HR. Ibnu Majah, hadits shahih)

"Jika salah seorang dari kalian (wanita) menghadiri mesjid maka janganlah menyentuh wangi-wangian." (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

"Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka." (HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dalam sabdanya yang lain:

"Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada di bagian tengah rumahnya dan shalatnya di kamar (pribadi)-nya lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya." (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

Beliau bersabda pula:

"Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

Sumber:
1. Sifat Sholat Nabi Edisi Revisi, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Penerbit : Media Hidayah, Yogyakarta , Cetakan Pertama
Terjemahan dari Kitab Shifatu Shalaati an Nabiyyi Shallallahi 'Alaihi wa Sallam min at-Takbiiri ilaa at Tasliimi Ka-annaka Taraahaa
2. Sifat Shalat Nabi, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin
Penerbit : At Tibyan, Solo
Terjemahan dari Kitab Shifatus Shalah
3. Sifat Sholat Nabi SAW dan Dzikir-dzikir Pilihan, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dan Syaikh Abdulaziz bin Baz
Penerbit : Pustaka Al Kautsar, Jakarta , Cetakan ke-10
Terjemahan dari Kitab Fatawa Hammah wa Risalah fii Shifati Sholatin Nabii Saw
4. Fikih Sunnah Jilid 1 dan 2, karya Sayyid Sabiq
Penerbit : PT. Al Ma'arif, Bandung , Cetakan ke-14
Terjemahan dari Kitab Fiqhus Sunnah
5. Al Fiqhu lilmustawar raabi'il ibtida-i, silsilatul manahijid diraasah
Penerbit : Jum'iyatu Ihyaut Turots Al-Islamii -Lajnah Junuubi Syarqi Asiya
6. Koreksi Total Ritual Sholat, karya Abu Ubaid Masyhur bin Hasan Mahmud bin Salman
Penerbit : Pustaka Azzam, Jakarta , Cetakan ke-3
Terjemahan dari Kitab al Qaulul mubin fii akhta-il Mushallin
7. Kumpulan Tulisan tentang Sholat, penyusun : Ustadz Abdul Hakim Abdat
8. Diktat Sholat, anonim
Penerbit: Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin, Ngruki, Cemani, Sukoharjo.
9. Sifat Wudhu Nabi, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin
Sumber: www.alsofwah.or.id/html/tc_wudhu.html
10. Shalat karya Syeikh Abdullah bin Sholeh Al Ubailan
11. Tuntunan Shalat menurut Al-Quran dan As-Sunnah, karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Jibrin
Penerbit At-Tibyan, Solo



Rukhsah Shalat dari Allah (Keringanan dalam Shalat)

Islam adalah agama yang mudah dan banyak sekali memberikan kemudahan (rukhsah) bagi umatnya. Termasuk dalam hal pelaksanaan ibadah shalat atas apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Berikut ini di antara bentuk-bentuk kemudahan dari Allah SWT tersebut.

1. Membukakan pintu ketika sedang shalat.

Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata,

"Rasulullah sedang shalat di rumah dan pintu terkunci dari dalam, lalu saya datang dan meminta agar dibukakan pintu, lalu Rasulullah bergerak membuka pintu kemudian melanjutkan shalatnya." Aisyah berkata, "Pintu itu berada di arah kiblat." (HR Abu Dawud, Nasa'i, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Namun, sebelum melakukan gerakan tersebut (membuka pintu), hendaknya orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan takbirnya agar diketahui oleh orang yang mengetuk pintu. Jika tidak mengerti juga maka hendaknya membuka pintu dengan gerakan yang sangat halus dan tidak memalingkan tubuhnya dari arah kiblat.

2. Shalat sambil menggendong bayi atau balita

Ada sebuah pertanyaan. Apa yang dilakukan seseorang (ibu) jika ia mempunyai bayi atau balita yang rewel yang menyebabkan ia susah melaksanakan shalat karena kerewelannya?

Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan pemeluknya untuk melakukan ibadah tanpa terhalang oleh apa pun. Oleh karena itu, dalam kasus di atas, jika tidak ada orang lain yang mengasuhnya atau seseorang yang menjaganya ketika kita akan melakukan shalat, sebagai rukhsah (keringanan) bagi kita adalah kita boleh menggendongnya ketika kita shalat.

Adapun caranya adalah sebagai berikut.

a. Sebelum digendong terlebih dahulu bersihkan dari segala macam najis yang menempel pada bayi atau balita.
b. Niat seperti biasa sambil menggendong bayi atau balita.
c. Tangan tidak perlu diangkat ketika takbir dan juga tidak bersedekap di atas dada, karena hukum mengangkat tangan dan menyedekapkan di atas dada adalah sunah.
d. Ketika rukuk, tangan tidak perlu diletakkan di atas lutut, tapi tetap memegang erat bayi atau balita.
e. Ketika hendak sujud, letakkan bayi atau balita
tersebut di tempat yang mudah dijangkau tanpa
gerakan yang berlebihan.
f. Laksanakan seperti itu hingga shalat selesai.

Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Qatadah :

"ia berkata, "Rasulullah shalat sedang cucunya Umamah putri Zainab berada di punggungnya. Bila beliau rukuk, diletakkannya cucunya tersebut dan bila berdiri dari sujud, diambilnya kembali dan diletakkan di punggungnya seperti semula."

Dari Abdullah bin Syidad dari ayahnya berkata,

"Pada suatu ketika Rasulullah keluar untuk mengerjakan shalat Zuhur atau Asar, beliau membawa cucunya Hasan atau Husein, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku. Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah, maka aku pun kembali sujud. Setelah selesai shalat, para jamaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’ Rasulullah menjawab, 'Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main." (HR Ahmad, An-Nasa`i, dan Hakim)

3. Memberi isyarat dalam shalat.

Diperbolehkan memberi isyarat kepada orang yang sangat membutuhkan. Misalnya seseorang yang menanyakan kunci kendaraan, sedangkan kita sedang melaksanakan shalat dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita. Sedangkan dia sangat membutuhkan kendaraan, atau memberi isyarat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu, atau memberi isyarat ketika menjawab salam. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadits:

Jabir bin Abdullah ra berkata,:

"Aku diperintahkan oleh Nabi agar datang menemuinya, karena pada waktu itu beliau hendak pergi bertemu dengan Bani Musthalik, kebetulan aku tiba ketika Nabi sedang shalat di atas kendaraannya. Aku berkata-kata kepadanya, maka beliau pun memberikan isyarat dengan tangannya sambil menganggukkan kepalanya sedangkan aku mendengarkan bacaan shalat beliau. Setelah selesai shalat, beliau bertanya kepadaku, "Bagaimana tugas yang aku berikan kepadamu? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab ucapanmu, karena ketika itu aku sedang shalat." (HR Muslim dan Ahmad)

Hadits lain menerangkan, Syuaib berkata,:

"Subhaanallah", dan bagi makmum perempuan dengan menepukkan tangan sehingga menimbulkan bunyi. Dengan bunyi tersebut, imam akan segera menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Hal ini didasarkan pada hadist, dari Sahl bin Sa'ad, Rasulullah bersabda, "Aku berjalan di dekat Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan shalat. Aku pun mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawab dengan isyarat." (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)


* Artikel ini dikutip dari buku "Panduan Pintar Shalat"

Semoga bermanfaat, silahkan sebarkan informasi ini pada yang belum mengetahui, semoga kita menjadi orang muslim yang beruntung dihadapan ALLAH SWT.

Amien

Smart Moslem





+

BAGAIMANA MENJADI MUSLIM YANG CERDAS DALAM KORIDOR AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH

Posted on 07.12 by SMART MOSLEM | 3 komentar

Para pembaca yang dimuliakan ALLAH, sebagian saudara kita yang Muslim banyak yang masih gamang dan bingung bagaimana semestinya harus bersikap dalam menjalankan agama Islam yang telah menjadi bagian dari dirinya, sebagian ada yang cuek saja dan menjalani hidup apa adanya yang penting saya beragama Islam (dalam KTP), tanpa ada suatu usaha untuk dapat memahami bagaimana Islam itu yang sesungguhnya, sebagian lagi ada yang beranggapan kalau Islam itu, yang penting saya sudah menjalankan Shalat, Puasa, Zakat dan berbuat baik pada sesama, tapi apakah dalam Islam, hanya mengerjakan masalah Shalat, Puasa, Zakat, Haji dan sebagainya sudah dianggap cukup dimata ALLAH?, tentunya tidak demikian, Islam tidak hanya mengajarkan Shalat, Puasa, Zakat dan lain-lain, tapi ternyata ada empat tahapan yang harus kita jalani supaya kita dianggap oleh ALLAH sudah menjalankan Islam secara utuh, dan sebagai seorang muslim yang cerdas, kita wajib dan harus mempelajari empat hal tersebut yaitu sebagaimana terdapat dalam (QS. Al-Ashr), yang berbunyi sebagai berikut :
  • “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Membaca surat Al-Ashr diatas sangatlah jelas sekali dan terang benderang, bahwa ALLAH SWT bersumpah bahwa semua orang di dunia ini, tanpa kecuali semunya dalam keadaan rugi atau bangkrut, termasuk kita orang Islam (apalagi Cuma Islam di KTP), tetapi di Surat tersebut dengan jelas dan terang benderang pula ALLAH memberikan solusi atau persyaratan, agar kita dapat menjadi orang yang beruntung di dunia dan di akhirat, mungkin pembaca ada yang kaget mengapa saya sebutkan diatas orang Islam juga termasuk yang dikategorikan ALLAH sebagai kelompok yang bangkrut, dan untuk penjelasan berikutnya saya fokuskan pada orang Islam saja, mengapa?, karena sebelum menginjak penjelasan selanjutnya, kita harus pastikan dulu bahwa kita orang Muslim (tentunya kita semua tahu awal untuk masuk Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat), nah yang jadi permasalahan adalah apakah kita sekarang termasuk golongan umat Ismam yang dalam keadaan merugi / bangkrut, ataukah kita umat Islam yang termasuk dalam kategori yang beruntung? Silahkan kita jawab dalam hati kita masing-masing setelah membaca uraian yang selanjutnya., dalam surat Al-Ashr yang pertama ALLAH bersumpah dengan masa yang terdalamnya terdapat peristiwa-peristiwa yang baik maupun yang buruk, dan sebagaimana disebutkan diatas bahwa semua manusia pasti merugi kecuali yang memiliki empat sifat (melalui empat tahapan), yaitu Iman, amal shaleh, saling menasehati supaya menaati kebenaran, dan saling menasehati supaya menepati kesabaran, yang kalau kita rangkum menjadi kalimat sederhana yang bisa kita mengerti adalah, Iman (iman hanya bisa tercapai dengan ilmu) karena semuanya harus dipelajari dengan menuntut ilmu terutama ilmu agama Islam yang benar (yang berdasar pada Al-qur`an dan as-sunnah) dan ini mau tidak mau kita harus memaksakan diri untuk belajar agama Islam secara benar, dimana ia tidak akan memperoleh kebahagiaan didunia maupun diakhirat kecuali dengan petunjuk agama Islam tersebut, amal shaleh adalah memaksanya untuk bersungguh-sungguh mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sampai mati setelah mengetahui ilmu agama Islam, nasehat-menasehati untuk menegakkan kebenaran bersungguh-sungguh mendakwahkan dan mengajarkan kepada yang tidak mengetahuinya, nasehat-menasehati untuk menetapi kesabaran memaksanya untuk bersungguh-sungguh bersabar terhadap kesukaran dan gangguan manusia dalam berdakwah dan kita lakukan itu untuk mengharap ridho-NYA, kalau kita sudah melaksanakan ke empat tingkatan itu barulah kita dianggap ALLAH sebagai manusia yang beruntung, dan masuk golongan robbaniyyin.


  • Imam Asy-Syafi`I berkata : “Seandainya ALLAH tidak menurunkan hujah bagi manusia selain surat ini, niscaya telah cukup bagi mereka”

  • Yang dimaksud beliau adalah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk mendorong berpegang teguh kepada keimanan, amal shaleh, dakwah kepada ALLAH, dan kesabaran kesabaran diatas itu semua. Yang beliau maksudkan bukanlah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk menjelaskan seluruh syariat Islam.Ucapan beliau, “Andaikan ALLAH tidak menurunkan hujah kepada manusia, kecuali surat ini, niscaya telah mencukupi mereka,” adalah karena jika seseorang yang mempunyai akal pikiran sensitive, tentunya mendengar atau membaca surat Al-Ashr ini, pasti berusaha untuk menyelamatkan diri dari kerugian, dengan berusaha memiliki empat sifat atau empat tingkatan dalam surat Al-Ashr tersebut yaitu, Iman, Amal shaleh, Saling menasehati untuk melaksanakan kebenaran, dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.
Secara detail ke empat tahapan didalam Surat Al-Ashr adalah :

  • 1. Ilmu (mempunyai dan mempelajari Ilmu), (Iman)
Setelah kita mengaku sebagai orang Islam wajib bagi kita untuk menuntut ilmu, tentunya hal ini di fokuskan untuk ilmu agama dan yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

  • "Menuntut ilmu itu hukumnya wajib (jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan mendapat dosa) bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan, waktunya dari buaian bunda (bayi), sampai masuk liang kubur (mati)"



Jelas dan terang sekali bukan hadits diatas, kalau kita sudah mengaku sebagai orang Islam (Muslim), maka kita sudah terkena hukum wajib dalam menuntut ilmu, kita tentunya tahu bahwa kata-kata wajib berarti jika dikerjakan/dilaksanakan kita akan mendapat dosa dan jika ditinggalkan/diabaikan kita akan mendapat murka dan dosa, dan waktunya pun dalam Islam tidak terbatas selama hidup dari kita lahir / bayi sampai kita mati, dan yang umum terjadi dan sangat memprihatinkan di kalangan kita, adalah jika kita sudah merasa dewasa atau tua kita jadi enggan untuk menuntut ilmu, maka dari itu saudaraku sesama muslim, sebelum kita dijemput oleh sang ajal, tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya, agar kita tergolong orang yang beruntung,
  •  karena kematian itu datangnya lebih cepat dari yang kita perkirakan.

Ada alasan yang sangat kuat dan mendasar mengapa kita harus ber ilmu, dalam Al-Qur`an disebutkan bahwa kita dilarang mengerjakan suatu ibadah yang kita tidak tahu ilmunya, karena agar agama Islam kita menjadi benar itu semua harus kita raih melalui ilmu, karena hal-hal yang mendasar dalam Islam harus dilandasi dengan Ilmu, Shalat kita harus tahu ilmunya, puasa kita juga harus tahu ilmunya dan lain-lainnya.
Ilmu dapat diartikan sebagai : mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya (dalam Islam dasarnya adalah Al-Qur`an dan al-Hadits sh

  • Pengetahuan ilmu itu memiliki enam tingkatan yaitu :
Pertama : Al`Ilmu, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya.


Kedua : Al-Jahlu `l-Basith, yaitu ketidak tahuan mengenai sesuatu sama sekali.


Ketiga : Al-Jahlu `l-Murokkab, yaitu mengetahui sesuatu berbeda dari hakikatnya


Keempat : Al-Wahmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan kuat mengenai kebalikannya.


Kelima : Asy-Syakk, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan sama mengenai kebalikannya.


Keenam : Azh-Zhoon, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan lemah mengenai kebalikannya

  • Sedangkan ilmu itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu ilmu dhorur`i yaitu ilmu yang obyek pengetahuan didalamnya bersifat semi pasti, tidak perlu pemikiran dan pembuktian. Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas, es itu dingin., Sedangkan ilmu nazhori` adalah membutuhkan pemikiran dan pembuktian, misalnya mengenai kewajiban berniat dalam berwudhu, shalat, puasa dan lainnya.
Adapun ilmu yang akan kita bahas disini, kita rangkum menjadi tiga saja yang menjadi dasar dan pondasi kita sebagai seorang muslim yaitu, ilmu mengenal ALLAH, ilmu mengenal Nabi-NYA, DAN ILMU MENGENAL Dinul (agama) Islam

  • MENGENAL ALLAH SWT
Mengenal ALLAH mengandung maksud bahwa mengenal ALLAH SWT dengan hati, yang berakibat kepada penerimaan secara ikhlas dan mantap mengenai syari`at yang ditetapkan-NYA, ketundukan dan kepatuhan kepada-NYA, serta menjadikan syari`at-NYA yang dibawa oleh Rasul-Rasul-NYA sebagai penentu hukum, seorang hamba bisa mengenal ALLAH SWT dengan memperhatikan ayat-ayat syar`iyah yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, serta memperhatikan ayat kauniyah yang terdapat pada makhluk-makhluk ALLAH, karena semakin seseorang itu memperhatikan maka semakin bertambahlah pengetahuannya tentang Penciptanya dan Rabb yang diibadahinya, sebagaimana Firman ALLAH (QS. Adz-Dzariyat : 20-21)

  • “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan”?


  • MENGENGENAL NABI-NYA
Mengenal Nabi maksudnya mengenal atau mengetahui Rasulullah Muhammad SAW, dengan pengetahuan yang mengakibatkan penerimaan kepada petunjuk dan ajaran yang benar yang dibawa oleh beliau, membenarkan segala hal yang dikabarkannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, menjadikan syari`atnya sebagai sumber hukum, yang dasar dan terpenting adalah harus merasa puas dan cukup dengan syari`at yang dibawa beliau Rasulullah SAW, jangan menambah-nambah atau mengada-adakan syari`at yang bersumber pada akal dan hawa nafsu kita, dan rela serta ikhlas menerima ketentuan yang ditetapkan beliau. Sebagaimana firman ALLAH dalam (QS. An-Nisa` : 65) :

  • “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

    (QS. An-Nur : 51) :
  • “Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nisa` : 59) :

  • “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”


(QS. An-Nur : 63) :

  • “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
Imam Ahmad ra berkata :

  • “Tahukah kalian, apakah fitnah itu? Fitnah adalah perbuatan syirik. Bila seseorang membantah sebagian firman-NYA, barangkali ada sedikit penyimpangan yang terlintas dihatinya, sehingga ia binasa.”

  • MENGENAL DINUL (AGAMA) ISLAM
Makna Islam secara umum adalah beribadah kepada ALLAH dengan syariat yang telah ditetapkan-NYA, sejak ALLAH mengutus rasul hingga terjadinya hari kiamat nanti. ALLAH SWT menyebutkan hal ini dalam banyak ayat yang menunjukan bahwa seluruh syari`at yang ada pada masa yang dahulu, merupakan wujud dari Islam (ketundukan) kepada ALLAH SWT, ALLAH Ta`ala berfirman mengenai Ibrahim dalam (QS. Al-Baqarah : 126) :

  • “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".


Sedang Islam dalam arti khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, adalah syari`at yang di bawa Nabi Muhammad SAW, sebab syari`at yang dibawa beliau telah menghapuskan seluruh syari`at yang terdahulu.
Barangsiapa mengikutinya maka dia disebut Muslim, sedangkan yang menentangnya bukan Muslim (kafir), orang-orang Yahudi adalah disebut Muslim di zaman Nabi Musa as, orang-orang Nasrani adalah Muslim di zaman Nabi Isa as, adapun setelah Nabi Muhammad SAW diutus, lantas mereka menentang kepada beliau, maka mereka bukan Muslim (kafir).
Islam adalah satu-satunya agama yang diterima disisi ALLAH dan yang sangat berguna bagi penganutnya,. ALLAH SWT berfirman dalam (QS. Ali Imran : 85) :

  • “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
Islam adalah agama yang sudah di tetapkan ALLAH sebagai agama yang sempurna, baik dalam ibadah, tata cara, dan aturan yang lainnya, karena perlu di ingat kalau kita membuat aturan baru yang tidak berdasar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul SAW yang shahih, berarti kita mengkhianati ALLAH SWT yang telah memberikan statemen dalam (QS. Al-Maidah : 3) :

  • “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”


Agar kita tidak terjebak pada ibadah yang tidak ada dasar hukumnya dari ALLAH SWT dan Rasul SAW, karena itu merupakan suatu pengkhianatan yang sangat berat, ibarat kita membuat agama baru dan tandingan selain agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, silahkan pelajari di bagian Bid`ah pada Bog Smart Moslem ini.
Setelah kita tahu ilmu tentang ALLAH, Rasul-NYA, dan tentang Agama Islam (untuk permasalahan Shalat, Puasa, Zakat, Haji, serta mengenai Nabi Muhamad SAW dan para sahabatnya, akan dibuat tersendiri dalam judul yang lain, dan mudah-mudahan InsyaALLAH dalam waktu dekat akan dimuat di Posting baru Smart Moslem, tentunya semuanya berdasarkan Al-Qur`an dan Hadits yang shahih), apakah di hadapan ALLAH kita sudah termasuk kategori manusia muslim yang beruntung?, jawabannya ternyata kita masih dalam kategori manusia muslim yang masih merugi, walaupun kita sudah menuntut ilmu, tentang ALLAH, Nabi SAW, dan Din Islam, kita masih tetap dianggap ALLAH masih merugi sebelum kita masuk dalam tahap selanjutnya, yaitu setelah memperoleh ilmu tersebut kita wajib dan harus mengamalkannya dalam kehidupan kita setiap hari sampai maut datang menjemput.

  • 2. Mengamalkannya (amal shaleh)
Yang dimaksud mengamalkannya artinya melaksanakan konsekwensi-konsekwensi ilmu pengetahuan yang telah kita dapat tersebut, yaitu beriman kepada ALLAH dan mentaati-NYA dengan cara melaksanakan perintah-perintah-NYA dan meninggalkan larangan-larangan-NYA, baik dalam ibadah khoshoh maupun ibadah muta`adiyah, contoh ibadah khoshoh adalah Shalat, Puasa, haji, sedangkan ibadah muta`adiyah adalah amar ma`ruf nahi munkar, jihad fi sabilillah, dan sebagainya.
Hakikatnya, amal adalah buah ilmu yang kita pelajari, jangan sampai kita seperti yang tersebut dibawah ini :
  • “Siapa beramal tanpa ilmu ia seperti orang Nasrani”
Nabi Isa diutus oleh ALLAH adalah khusus untuk kaum tertentu yaitu Bani Israel, tidak untuk kaum diluar itu, seperti dalam (QS. Ali Imran : 49) :

  • “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman."

  • Nabi Isa (Yesus) juga menganggap dirinya sebagai Nabi khusus untuk Bani Israel, dan apabila ada orang lain di luar kaum Bani Israel mendekati, maka dia akan mengusirnya, seperti dalam Injil Matius XV : 21-26, kita secara gamblang dan jelas dapat membaca sebagai berikut :
“Maka Yesus keluarlah dari sana, serta berangkat ke jajahan Tsur dan Sidon, Maka adalah seorang perempuan Kanani dating dari jajahan itu, serta berteriak, katanya : Ya Tuhan, ya anak Daud, kasihanilah hamba, karena anak hamba anak hamba yang perempuan dirasuk setan terlalu sangat.
Tetapi sepatah katapun tidak dijawab oleh Yesus kepada perempuan itu, maka datanglah muridnya meminta kepadanya, serta berkata : Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-teriak dibelakang kita.
Maka jawab Yesus : “Tidaklah aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israel”


  • Jelas sekali didalam Al-Qur`an dan injil disebutkan bahwa Nabi Isa / Yesus hanya diutus untuk bangsa Bani Israel, bukan kepada bangsa yang lain, jadi kesimpulannya ilmu agama yang diberikan Nabi Isa /Yesus hanya diperuntukan khusus untuk Bangsa Bani Israel / domba-domba yang sesat dari antara Bani Israil.



Jadi jika kita merasa bukan bagian dari bangsa Bani Israil, dan sekarang kita mengamalkan ajaran dari Nabi Isa / Yesus, maka jelas akan salah alamat dan membuat kesalahan yang besar didunia, makanya Siapa beramal tanpa ilmu, ia seperti orang Nasrani, karena ilmunya hanya untuk bangsa Bani Israel, sedangkan jika kita bukan bangsa Bani Israel, tetapi mengamalkan ajaran dari Nabi Isa / Yesus berarti secara logika kita tidakunya Pondasi karena kita tidak diberi ilmu oleh Nabi Isa / Yesus.


  • “Siapa berilmu namun tidak beramal, ia menyerupai orang Yahudi”
Seperti sudah dijelaskan diatas, bahwa Nabi Isa / Yesus hanya diutus untuk bangsa Bani Israel (Yahudi), tidak untuk bangsa yang lainnya, jadi hanya orang Yahudi yang diberi ilmu dan berhak mengamalkannya, tetapi keadaan berkata lain, malah orang Yahudi tidak mau mempercayai dan menentang Nabi nya (Isa as) / Yesus, bahkan membunuh Nabinya sendiri (Yesus dibunuh dengan cara disalib versi Injil), tapi sebenarnya dalam Al-Qur`an Nabi Isa diangkat ALLAH ke langit, dan digantikan sahabat yang mengkhianatinya yaitu Yudas untuk dibunuh dan disalib oleh orang Yahudi).
Penjelasannya adalah bangsa Bani Israel (Yahudi), diberikan ilmu agama oleh Nabi Isa / Yesus tapi mereka menolaknya dan tetap mempertahankan agama nenek moyangnya, tetapi yang sudah dikatakan dalam Kitabullah dan Injil bahwa ilmu itu hanya untuk bangsa Bani Israil, tetapi malah yang mengamalkan ajaran dari Nabi Isa / Yesus adalah bangsa-bangsa / kaum yang lain termasuk bangsa Indonesia sendiri.
Untuk kita kaum Muslimin sendiri itu harus : Berilmu dan mengamalkannya, karena jelas bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh alam baik jin ataupun manusia. Tapi apakah jika kita sudah berilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita sudah termasuk kategori manusia muslim yang beruntung? Jawabannya masih belum, karena ada satu tugas dan tahap lagi yang harus kita lalui yaitu mendakwahkan pada orang lain yang belum mengerti.

  • 3. Mendakwahkannya (Nasehat-menasehati untuk menegakkan kebenaran)
Mendakwahkannya maksudnya adalah mendakwahkan syari`at ALLAH yang telah dibawa Rasul SAW, untuk berdakwah tidak harus menjadi seorang ustadz atau da`I dulu, setiap kita yang telah memperoleh ilmu (walaupun Cuma satu ayat), dikenai hukum yang wajib untuk menyampaikan kepada yang belum mengetahuinya, terutama ditujukan pada keluarga dekat kita dulu, jadi jangan ada alasan kita tidak mau berdakwah sebelum kita pintar atau jadi da`i dulu, sebelum ajal menjemput laksanakanlah perintah yang kedua dari surat AL-Ashr untuk berdakwah (saling menasehati dalam menetapi kebenaran), tahapan dakwah ada tiga atau empat, Firman ALLAH SWT (QS. An-Nahl : 125) yang berbunyi :

  • “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Sedangkan tahapan dakwah yang keempat adalah : (QS. Al-Ankabut : 46) yang berbunyi sebagai berikut :

  • “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri".
Kalau kita perhatikan dari kedua ayat diatas sangat jelas sekali kalau kita dalam berdakwah harus, menyeru manusia dalam keadaan baik, dan lemah lembut, tidak boleh pakai kekerasan (apalagi pakai bom segala), karena hanya ALLAH lah yang mengetahui siapa-siapa yang tersesat dari jalan-NYA, dan siapa-siapa orang yang mendapatlkan petunjuk, jadi kita sebagai manusia moslem tugas kita hanya terbatas pada menyampaikan peringatan ALLAH terutama pada manusia yang belum mengetahui, tidak lantas bertindak menghakiminya jika orang yang kita akwah menolak atau mencaci kita, karena kita berdakwah dasarnya adalah untuk mencari keridhaan ALLAH, perkara orang yang kita beri peringatan mau atau tidak mengikuti jalan ALLAH itu bukan wewenang kita tapi sepenuhnya hak mutlak ALLAH, dan jika kita bertindak diluar wewenang kita karena ada manusia yang tidak mau mengikuti jalan ALLAH lantas kita melakukan kekerasan misalnya dengan terror bom, pembunuhan dan sebagainya, itu adalah suatu tindakan yang sangat salah dan berlebihan, kita telah melampaui wewenang kita sebagai manusia, kita perhatikan waktu Nabi Muhammad SAW berdakwah pada orang-orang kafir quraisy, beliau kemudian dilempar dengan batu dan kotoran unta, sampai malaikat Jibril menawarkan pada beliau akan mengangkat gunung Uhud dan akan dilemparkan pada orang kafir yang menyakiti beliau, tapi beliau menolak dan malah berdo`a pada ALLAH agar mereka yang menyakiti beliau diberi petunjuk dan hidayah, itulah salah satu sikap dari pemimpin umat seluruh dunia dalam berdakwah, tidak seperti kita zaman sekarang, kalau sudah dianggap kafir dan bermusuhan oleh sebagian dari umat Islam maka mereka dengan gampangnya melakukan tindakan anarkis dengan meledakan obyek-obyek milik orang kafir, marilah kita renungkan lagi, apakah dulu nabi Muhammad SAW memenangkan Islam dengan terror dan kekerasan?, tentunya tidak bukan,dari riwayat-riwayat yang telah kita pelajari bahwa Nabi Muhammad SAW, memenangkan Islam dengan kasih saying lewat pertolongan ALLAH SWT.
Kita kempali pada pokok pembicaraan, nah setelah kita beriman (dg menuntut ilmu), mengamalkannya untuk kita dalam kehidupan sehari-hari sampai mati, mendakwahkannya kepada yang belum mengetahui, apakah sudah cukup kita masuk kategori orang yang beruntung dimata ALLAH, ternyata belum dan masih ada satu tahapan lagi yang harus kita lewati, yaitu bersabar terhadap gangguan manusia dalam berdakwah.
  • 4. Bersabar terhadap gangguan dalam berdakwah . (nasehat-menasehati untuk menetapi kesabaran)berdakwah
Sabar disini dapat diartikan sebagai menahan diri untuk tetap menaati ALLAH, dan tidak bermaksiat kepada-NYA, dan tidak membenci takdir-takdir yang ditetapkan-NYA, atau menahan diri untuk tidak membenci, mengeluh dan bosan.
Dengan kesabaran, kita senantiasa giat mendakwakan agama ALLAH, sekalipun disakiti, dihina, karena penganiayaan terhadap orang yang mendakwahkan kebaikan, merupakan hal yang biasa yang dilakukan manusia, kecuali mereka yang sudah mendapat petunjuk ALLAH seperti dalam Firman-NYA (QS. Al-An-am : 34) :

  • “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.”
Semakin keras penganiayaan terhadap orang yang sedang berdakwah, maka semakin dekat pertolonggan ALLAH, pertolongan ALLAH tidak hanya diberikan ketika masih hidup, saat ia masih bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud, tapi pertolongan itu dating setelah ia wafat, misalnya ALLAH menjadikan hati segenap manusia menerima dakwahnya dan berpegang teguh kepada-NYA, itu termasuk dalam kategori pertolongan ALLAH pada orang yang berdakwah, meskipun orang tersebut telah wafat, karena itu orang yang berdakwah harus bersabar dan konsisten menjalankan dakwahnya, Ia harus bersabar menjalankan agama ALLAH yang didakwahkannya, Ia juga harus bersabar menghadapi gangguan yang menimpanya, lihatlah para rasul juga diganggu dengan perkataan maupun perbuatan, seperti dalam Firman ALLAH SWT (QS. Adz-Dzariyat : 52) :

  • “Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila".
Dalam (QS. Al-Furqon : 31)

  • “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.”
Dan seorang yang sedang berdakwah menerima perlakuan itu dengan sabar.
Perhatikan juga Firman ALLAH SWT (QS. Al-Insan : 23) yang berbunyi :

  • “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.”
Sebenarnya wajar kiranya jika setelah firman ALLAH ini yang dinantikan adalah sebuah ayat yang berbunyi, “Hendaklah kamu mensyukuri nikmat Rabb mu!” namun ternyata ALLAH berfirman : “
  • Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Rabb mu” (QS. Al-Insan : 24).
Ini mengandung maksud bahwa setiap orang yang melaksanakan Al-qur`an pasti mengalami hal-hal yang menuntutnya bersabar.
Perhatikan keadaan Nabi Muhammad SAW ketika dipukuli kaumnya, hingga darah mengucur kewajah beliau, sambil mengucap darah di wajah, beliau berdo`a :

  • “Ya ALLAH ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Karena itu sebagai orang yang sedang berdakwah wajib bersabar dan mengharap pahala dari sisi ALLAH.
  • Ada tiga macam sabar jika kita sedang berdakwah yaitu :
1. Sabar dalam mentaati ALLAH dan Rasul-NYA
2. Sabar dalam meninggalkan hal-hal yang di haramkan ALLAH SWT.
3. Sabar dalam menjalani taktir yang ditimpakan oleh ALLAH, baik takdir
tersebut tanpa lantaran usaha manusia maupun melalui perantaraan tangan manusia berupa gangguan dan penganiayaan.

  • Maka dari itu ingatlah wahai saudaraku sesama muslim, bertindaklah sesuai hak kita yang diberikan ALLAH pada kita yaitu kita Cuma diwajibkan untuk memperingati lewat dakwah, dan jika orang yang kita ajak tidak mau/menolak, ALLAH hanya memerintahkan kita untuk bersabar, tidak menghakiminya seperti dihancurkan dengan bom seperti yang terjadi saat ini, menganiaya orang tersebut, jadi bermusuhan dengan orang yang menolak, maka jika kita lakukan semua itu, maka kita tidak menetapi tahapan yang keempat dalam surat AL Al-Ashr yaitu bersabar (nasehat-menasehati untuk menetapi kesabaran), dan kita akan tergolong masih sebagai orang yang merugi dimata ALLAH.



Jadi agar kita di mata ALLAH dapat menjadi orang yang beruntung maka kita harus :Ber-Iman dengan menuntut ilmu karena iman hanya bisa kita raih dengan ilmu, ber amal shaleh, setelah dapat ilmu kita harus melaksanakan dengan konsekwen dalam kehidupan sehari-hari sampai mati, Mendakwahkan ilmu yang kita dapat pada orang lain khususnya bagi yang belum mengetahgui (awam), dan Bersabar jika ada gangguan waktu kita berdakwah seperti pnolakan bahkan penganiayaan.
Kalau kita sudah melampaui keempat tahapan diatas, mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan muslim yang beruntung di mata ALLAH SWT.

  • Amien, Semoga bermanfaat.



Sumber : Syarah Tsalatsatsul Ushul (Mengenal ALLAH, Rasul, dan Dinul Islam)
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

RIBA DALAM PANDANGAN HUKUM AL-QUR`AN DAN SUNNAH

Posted on 04.46 by SMART MOSLEM | 1 komentar

Abu Abdirrahman Ali Khumais Ubaid

MUQADDIMAH

Saudaraku sesama muslim dan muslimah yang dimuliakan ALLAH, sebelum kita mulai pembahasan tentang riba, kita berharap anda membaca risalah ini terlebih dahulu (Segala puji hanya milik ALLAH Rabb seru sekalian alam, dengan pujian sepenuh segala nikmat, dan mencukupi orang yang diberi tambahan, bagi-NYA sanjungan dalam keagungan uluhiyah)

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi termulia Muhammad SAW yang telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah. ALLAH SWT Berfirman dalam (QS: Ali Imran 110) :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada ALLAH. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”

Dan Nabi SAW bersabda : “Orang yang menunjukan kepada kebaikan adalah seperti orang yang mengerjakannya, tiada sempurna iman seorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” dan beliau juga bersabda : “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka putuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara yaitu : Shadaqah Jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya”

Saudaraku sesama muslim dan muslimah yang dimuliakan ALLAH, kalau kita memperhatikan ayat yang agung yang telah disebutkan diatas, dan kepada hadits Nabi SAW yang menunjukan keutamaan Tafaqquf fiddin, serta pahala shadaqah jariyah hingga sampai mati, maka jika anda telah membaca tulisan ini lalu anda menghadiahkan kepada orang lain, sungguh anda akan memperoleh pahala yang sangat besar dari ALLAH SWT pada hari kiamat, karena Nabi Muhammad SAW telah bersabda kepada Ali ra :

“Demi ALLAH jika ALLAH memberi petunjuk kepada seseorang lantaran dirimu, maka itu lebih baik bagimu dari pada se ekor unta merah (harta benda yang sangat berharga pada waktu itu), dan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda didalam hadits yang lain : Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat..

Saudaraku sesama muslim dan muslimah yang dimuliakan ALLAH, janganlah anda menghalangi diri dari mendapatkan pahala yang besar ini, janganlah pula anda merasa pelit untuk memberi kebaikan yang banyak kepada selain anda.


CATATAN PENTING UNTUK PARA PELAKU RIBA

Sesungguhnya orang yang memperhatikan realita kondisi kaum muslimin pada saat ini, maka kita akan mendapatkan realita bahwa masih banyak diantara mereka yang meremehkan atau menggampangkan masalah riba, entah dengan memakannya, menjadi pelaku, menentukan hukum, mengambil pinjaman, menjadi saksi, penjamin, penulis, penganjur, pendorong atau pun pembantu dalam proses riba. Seakan-akan urusan riba ini adalah merupakan satu kebolehan atau paling-paling merupakan hal yang makruh, atau hanya sebuah kemaksiatan kecil saja. Mereka tidak tahu bahwa riba termasuk perbuatan dosa yang sangat besar yang ALLAH telah mengumandangkan perang kepada para pelakunya didunia dan akhirat, ALLAH juga mengancam mereka dengan api neraka pada saat hari penghimpunan dihadapan-NYA. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah, kita melihat bahwa banyak dari mereka, baik tua atau muda bahkan para wanita yang penampilan mereka mencerminkan orang yang iltizam(konsisten) dengan ajaran Islam, namun tetap saja mereka terlibat dalam dosa besar ini, menganggap remeh hal tersebut dan bahkan mungkin berlomba0lomba menuju ke sana (riba). Maka mereka akhirnya terbelenggu dengan kemarahan ALLAH SWT, dengan laknat-NYA, dan kelak terbelenngu dengan siksa-NYA jika mereka tidak mau ber-taubat lalu taubatnya diterima oleh ALLAH SWT. Oleh karena itu maka kami akan menyajikan beberapa ayat dan hadits-haditys Nabi Muhammad SAW yang shahih, mudah-mudahan dapat mencegah dan mengnghalangi kita dari dosa besar ini yaitu riba.

AYAT-AYAT ALLAH YANG MEMPERINGATKAN TENTANG RIBA

1. Pemakan Riba Ada di antara syaitan dan neraka
Dalam (QS. Al-Baqarah : 275), ALLAH Berfirman :

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."

ALLAH telah menjadikan pelaku riba tidak dapat berdiri pada hari kiamat kecuali berdirinya orang yang kesurupan setan lantaran tekanan penyakit gila, yaitu ia seperti orang yang kerasukan. Ini adalah salah satu hukuman bagi mereka, merupakan kehinaan dan keburukan yang sangat jelas.
Lalu ALLAH SWT menegaskan lagi dengan jelas tentang ke-haraman riba dalam Firman-NYA sbb :

“Padahal ALLAH telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

Selanjutnya ALLAH mengancam orang-orang yang tidak mau bertaubat dari riba setelah ALLAH mengharamkanNYA dengan ancaman api neraka, seperti dalam Firman-NYA :

“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambilriba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangan); dan urusannya (terserah) kepada ALLAH. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal didalamya”.

Maka pelaku riba adalah penghuni neraka, kecuali jika ALLAH memberikan rahmatnya, dan ALLAH menerima taubatnya setelah mereka memohon ampunan kepada ALLAH SWT.

2. HARTA RIBA TERHALANG DARI BARAKAH

ALLAH SWT Berfirman dalam (QS. Al-Baqarah : 276)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.

Ayat ini merupakan peringatan dari ALLAH bahwasanya Dia tidak memberikan berkah pada harta riba, dan akan menghapuskannya, dan benar apa yang di Firmankan ALLAH dalam (QS. Ar-Ruum : 39) :

”Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi ALLAH”.

Dan ini semua demi ALLAH dapat kita saksikan sendiri pada hari ini, berapa banyak perusahaan dan bank baik yang berskala international atau daerah yang bangkrut karena sebab riba, berapa banyak wanita dan pria yang masuk penjara karena sebab riba. Sesubgguhnya itu adalah hukum ALLAH maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran, namun sebagian yang lain ALLAH biarkan dan mereka bersenang-senang di dunia sampai akhirnya nanti ALLAH mengadzabnya di akhirat jika mereka tidak mau bertaubat.

3. ALLAH MENGUMANDANGKAN PERANG KEPADA PARA PELAKU RIBA

ALLAH SWT berfirman dalam (QS. Al-Baqarah:278-279) yang berbunyi sebagai berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (279). “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.

Ayat-ayat ini merupakan ancaman yang sangat berbahaya dan janji yang sangat keras kepada para pelaku riba, ALLAH telah memberitaukan bahwa jika mereka tidak mau bertaubat, “maka ketahuilah bahwa ALLAH dan Rasulnya akan memerangimu”. Maksudnya adalah tunggulah peperangan dari ALLAH dan Rasul-NYA kepada kalian semua, maka siapakah yang mampu untuk berperang menghadapi ALLAH dan Rasul-NYA?, kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan penjagaan. Pemuka tafsir Abdullah Ibnu Abbas ra berkata tentang ayat ini : “Akan dikatakan pada hari kiamat nanti kepada para pemakan riba, “Ambilah senjatamu untuk berperang.” Dan bersumber dari beliau juga, bahwasanya beliau berkata : “Barang siapa yang bertahan terus dengan riba dan tidak mau berhenti atau meninggalkannya maka merupakan hak imam kaum muslimin untuk memintanya bertaubat, jika mau berhenti maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak mau berhenti maka boleh dihukum mati”.

4. ALLAH SWT MENGANCAM PARA PELAKU RIBA DENGAN PERJUMPAAN YANG PASTI DENGAN-NYA

ALLAH SWT berfirman dalam (QS. Al-Baqarah: 281) :

“ Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.

Ayat ini merupakan peringatan dari ALLAH kepada para pelaku riba, agar mereka takut nanti pada hari Kiamat, yang pada hari itu seluruh manusia kembali kepada Rabb mereka, lalu ALLAH menghisab mereka atas segala yang telah mereka lakukan.

5. ALLAH SWT MENGANCAM PELAKU RIBA DENGAN API NERAKA

ALLAH SWT Berfirman dalam (QS. Ali Imran : 130-131) yang berbunyi sbb :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” , “Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir”.


HADITS-HADITS SHAHIH RASULULLAH SAW SEPUTAR RIBA

Rasulullah SAW telah memberitahukan tentang berbagai sifat dan keadaan orang yang melakukan praktek riba, dan diantaranya adalah sebagai berikut :

1. RIBA ADALAH KEHANCURAN DAN KEBINASAAN

Rasulullah SAW bersabda :

“Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan, yaitu menyekutukan ALLAH, sihir…..,dan memakan riba” (hadits muttafaqun alaihi), maksudnya adalah bahwa riba menyebabkan pelakunya menemui kehancuran di dunia dan di akhirat.

2. RIBA LEBIH PARAH DARI PADA ZINA

Rasullulah SAW bersabda :

“Satu dirham dari riba yang dimakan oleh seseorang dan ia tahu itu (riba), maka lebih besar di sisi ALLAH daripada berzina tiga puluh enam kali”.(HR. Imam Ahmad dan ath Thabrani)

Alangkah dahsyatnya hadits yang menakutkan ini, sebab jika satu dirham saja dari riba lebih parah daripada dosa zina yang bukan hanya sekali namun sebanding dengan tiga puluh enam kali dosa zina, maka bagaimana dengan orang yang memakan ribuan bahkan jutaan riba, demikian juga dengan sebagian orang yang berserikat dengan mereka dalam riba, membantu mereka, menolong dan mempermudah urusan pinjaman ribawi, menjadi pengurus atau minta diuruskan, atau mewajibjan mereka untuk melakukan itu, ataupun memberikan sanksi kepada mereka jika tidak mau menjalankannya. “ Sesungguhnya kita semua tidak boleh memaksakan kepada orang untuk melaksanakan kewajiban syar`I, maka bagaimanakah kita berani mewajibkan mereka dengan perkara-perkara haram”, Maha Suci Engkau ya ALLAH, ini adalah sebuah kedustaan yang amat besar.

3. SEMUA YANG TERLIBAT DALAM RIBA DIANCAM DENGAN LAKNAT

Rasullulah SAW bersabda :

“ALLAH melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan dengannya, kedua saksinya, dan penulisnya, lalu beliau bersabda, “mereka semua itu adalah sama saja” (HR. Muslim)

Hadits shahih ini secara tegas menjadi hujjah atas siapa saja yang membantu para pemakan riba. Rasulullah SAW menjadikan laknat semua pihak yang terlibat, dan beliau beritahukan bahwa mereka itu adalah sama. Apabila seorang penulis, saksi adalah satu sekutu maka bagaimanakah dengan orang yang mengurusinya, atau orang yang sengaja menyebarkan dan memasang iklan untuk mengajak manusia kepada riba, yang menganjurkan atau….kami memohon kepada ALLAH keselamatan dan penjagaan. Satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa kalimat katib (penulis) yang terdapat didalam hadits adalah mencakup seluruh penulisan tatkala proses pengurusan akad riba, dan seluruh penulisan yang terjadi setelah akad ini maka masuk dalam akad yang diharamkan juga (karena merupakan kelanjutannya.)

4. RIBA MENDATANGKAN AZAB BAGI SELURUH UMAT

Rasulullah SAW bersabda :

“Apabila telah tampak perzinahan dan riba di suatu negeri, maka mereka berarti telah menghalalkan azab ALLAH untuk diri mereka.” (HR. Ath-Thabrani, al-Hakim)

Subhanallah!!!, sesungguhnya dimasa ini hadits ini benar-benar terbukti, dimana telah banyak menyebar perzinahan dan riba, kita memohon kepada ALLAH agar menyelamatkan kita dari adzab dan siksa NYA.

5. ORANG YANG MEMPRAKTEKAN RIBA SE AKAN-AKAN MEN ZINAHI IBUNYA

Rasulullah SAW Bersabda :

“Riba itu memiliki tujuh puluh pintu, yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menikahi ibunya sendiri.” (HR Shahihul Jani, al-Albani)

Jika pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seseorang yang menikahi ibunya sendiri, na`udzubillah min dzalik, maka bagaimanakah dengan pintu riba yang lebih besar lagi yang saat ini banyak digeluti manusia.


6. RIBA ITU SEDIKIT MESKIPUN TERLIHAT BANYAK

Rasulullah SAW bersabda :

“Riba meskipun banyak namun akibatnya akan menjadi sedikit.” (HR al-Hakim).

Hadits ini bersesuaian dengan Firman ALLAH SWT yang berbunyi :

“ALLAH memusnahkan riba dan menyuburkan jual beli dan menyuburkan sedekah.” Ini merupakan peringatan bagi para pelaku riba meskipun harta riba itu banyak, pada suatu hari nanti akhirnya penghujungnya adalah kehancuran dan kebinasaan. Dan ini dapat kita saksikan sendiri kenyataannya, para pelaku riba akan selalu diberi cobaan oleh ALLAH dengan dijauhkan dari barakah dalam harta yang diperoleh, ALLAH selalu meng-adzab mereka dengan musibah, penyakit, kecelakaan sehingga mereka menghabiskan uang tersebut untuk keperluan itu, mereka tidak merasakan nikmat dengan uang itu, bahkan mereka mengalami kerugian dalam perdagangan, atau ALLAH mengakhirkan mereka semua nanti pada hari kiamat, dan ini tentu lebih dahsyat lagi.

7. PELAKU RIBA DICEBURKAN KE SUNGAI DARAH

Rasulullah SAW Bersabda :

“Bahwasanya beliau didatangi oleh dua malaikat lalu mereka berkata, “Marilah ikut bersama kami, hingga akhirnya dua malaikat itu membawa beliau ke sebuah sungai darah, di dalam sungai tersebut ada seseorang yang sedang berenang. Sementara di pinggir sungai ada orang lain yang menghadap ke bebatuan dan ia memandang ke arah orang yang berenang di tengah sungai darah. Jika orang yang di tengah sungai itu ingin keluar darinya maka laki-laki yang dipinggir sungai melempari mulutnya dengan batu, sehingga ia kembali ke tempatnya semula. Llu Nabi SAW berkata : “Aku bertanya kepada dua malaikat tentang orang yang berada di sungai tersebut, maka ia menjawab, “adapun orang yang engkau datangi tadi yang berenang di sungai lalu mulutnya di lempar batu adalah pemakan riba.” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadits ini jelas sekali bagaimana kerasnya hukuman bagi orang yang memakan riba, yakni dia dilemparkan ke dalam sungai darah, dan setiap ia akan keluar dari sungai darah tersebut maka dikembalikannya lagi ke dalamnya, dan demikian seterusnya, sementara di dunia dia mengira bahwa dirinya hidup dalam kenikmatan.


8. RIBA DENGAN SYIRIK

Rasulullah SAW Bersabda :

“Riba memiliki tujuh puluhan pintu, dan syirik juga demikian.” (HR. ath-Thabrani)

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah SAW telah menggabungkan riba dengan syirik didalam satu hadits. Ini menunjukan betapa besarnya bahaya riba.


9. RIBA PERTANDA KIAMAT

Rasulullah SAW Bersabda :

“Menjelang kedatangan hari kiamat tampak (menyebar) riba, perzinahan dan khamar (miras).” (HR. ath-Thabrani)

Rasulullah SAW telah menjadikan diantara tanda-tanda akan datangnya hari kiamat adalah munculnya riba yang meraja lela.


10. PELAKU RIBA TELAH MENGHALANGI DIRI DARI AMPUNAN ALLAH

Rasulullah SAW Bersabda :

“Jauhilah oleh kalian semua dosa-dosa yang tidak di ampuni, “Dan beliau menyebutkan salah satunya adalah memakan riba.” (HR. ath-Thabrani)

Makna dari hadits tersebut bukan berarti bahwa orang yang memakan riba itu meskipun sudah bertaubat dengan taubat nasuha, maka dia tetap tidak diampuni oleh ALLAH. Namun maksudnya adalah bahwa itu merupakan penjelasan tentang besar dan bahayanya memakan riba. Ini disebabkan karena sudah menjadi kesepakatan umat bahwa orang yang bertaubat dari dosanya maka ALLAH akan menerima taubatnya, baik itu dosa kecil maupun dosa sebesar gunung uhud sekalipun, dan ini semua telah disebutkan dengan jelas didalam Al-Q`UR`AN dan as-Sunnah.


11. PELAKU RIBA DIANCAM AKAN DIUBAH RUPANYA MENJADI KERA ATAU BABI

Rasulullah SAW Bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-NYA, sungguh akan ada sekelompok orang dari umatku yang berada dalam keburukan, kesombongan, permainan dan kesia-siaan, maka jadilah mereka itu kera dan babi-babi dengan sebab mereka menganggap halal apa-apa yang haram dan dengan sebab memakan riba.” (Shahih at-Targhib no. 1864)


12. RASULULLAH SAW MELETAKAN RIBA DIBAWAH TELAPAK KAKINYA SEBAGAI PERENDAHAN DAN PENGHINAAN TERHADAP PARA PELAKUNYA, DAN BELIAU MENGANGGAPNYA SEBAGAI PERBUATAN JAAHILIYAH

Rasulullah SAW telah bersabda di dalam haji wada` :

“Ketahuilahbahwa segala sesuatu dari perkara jahiliyahb itu berada di bawah telapak kakiku, dan riba jahiliyah telah ditetapkan (dihapuskan), dan riba pertama kali yang aku letakan (aku hapus) adalah riba kami, riba al-Abbas bin Abdul Muthalib, semua itu telah di hapuskan.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi berkata dalam syarah hadits ini :

“Adapun sabda Nabi SAW “Berada dibawah telapak kakiku” adalah merupakan isyarat penghapusan riba, dan juga yang di maksud dengan meletakan adalah menolak dan membatalkannya (menghapusnya).”


RIBA DAN HUTANG

Sesungguhnya riba merupakan sebab yang sangat besar dari sebab-sebab para pemakai jasa ribawi terlilit hutang. Karena setiap kali hutang yang awalnya sudah hampir lunas maka biasanya dia mengambil kembali hutang lagi, demikian seterusnya hingga akhirnya hutang tersebut menumpuk, Padahal Islam menganggap hutang adalah masalah yang sangat besar yang berkaitan dengan hak sesama hamba, sebagaimana dalam tiga hadits berikut ini :

1. Sabda Nabi SAW

“Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan hutang nya sehingga hutang tersebut dilunasi.” (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

2. Sabda Nabi SAW

Dari Salamah bin al-Akwa dia berkata,

“Kami duduk disi Rasulullah SAW, tiba-tiba ada jenazah yang dibawa kepada beliau…lalu dibawa kepada beliau jenazah yang ketiga, maka orang-orang berkata, “Silahkan anda menyalatinya, maka Nabi SAW bertanya, “Apakah dia meninggalkan sesuatu? Orang-orang menjawab, Tidak.” Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah dia mempunyai hutang?” Mereka menjawab, “Tiga dinar.” Nabi bersabda, “Shalatlah kalian semua untuk teman kalian ini.” (Hadits Shahih al-Albani)

3. Sabda Nabi SAW

Dari Abu Qatadah ra, bahwasanya Rasulullah SAW suatu ketika berada diantara para sahabat, lalu beliau menyebutkan bahwa jihad fi sabilillah dan iman kepada ALLAH adalah merupakan amal yang paling utama, lalu seseorang berdiri dan bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan ALLAH apakah dosa-dosaku diampuni? Maka Rasulullah SAW bersabda, “Ya, jika engkau terbunuh dijalan ALLAH dan engkau sabar , mengharap pahala ALLAH, engkau maju dan tidak mundur.” Lalu beliau berkata, “Bagaimana tadi kamu berbicara? Orang itu menjawab,”Apakah pendapat anda jika aku terbunuh di jalan ALLAH, apakah dosa-dosaku dihapuskan?, Maka Nabi SAW Menjawab, “Ya, jika kamu sabar, berharap pahala ALLAH, maju dan tidak mundur, kecuali hutang (kamu masih punya hutang), karena Jibril alaihissalam mengatakan demikian kepadaku.”

Perhatikanlah wahai saudaraku fillah!!!, bagaimana besarnya urusan hutang ini, yang pertama adalah bahwa jiwanya masih tergantung, hingga hutang nya terbayar, lalu Rasulullah SAW tidak menyalatkan jenazah orang yang masih menanggung hutang, sedangkan ia tidak meninggalkan sesuatu yang dapat digunakan untuk membayarnya, dan terakhir ALLAH SWT mengampuni seluruh dosa dan kesalahan orang yang mati syahid, dosa besar dan kecil, kecuali hutang.

Dan diantara yang menunjukan besarnya masalah hutang ini adalah bahwa Nabi SAW tidak menyebutkan kalimat “kecuali hutang” dalam sabda beliau yang pertama, baru kemudian ALLAH mengutus Jibril as untuk memberitahu beliau tentang kalimat “kecuali hutang” tersebut.

Dan urusannya akan semakin bertambah besar dan semakin besar manakala kita tahu bahwa hadits tersebut diatas menceritakan tentang hutang yang dilakukan dengan cara yang syar`i. Maka atas dasar ini kita bertanya bagaimanakah apabila hutang tersebut dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan syari`at (riba misalnya). Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut lebih buruk urusannya, lebih keji dan berbahaya, karena di sana terkumpul pada diri seseorang bahaya berhutang dan sekaligus bahaya dari sumber pengambilannya, yakni riba yang jelas haram. Maka apakah kita semua mau bertakwa kepada ALLAH Azza wa Jalla dan bertaubat dari riba dan berhutang kepada sesama hamba??.


PENDAPAT ULAMA DAN KALIMAT KEBENARAN SEPUTAR RIBA


Seluruh ummat beserta segenap ulamanya, baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian telah sepakat bahwa riba adalah haram. Dan mereka juga sepakat bahwa siapa saja yang menghalalkan riba maka ia telah kafir, dan barang siapa yang melakukan dosa besar ini (riba) dengan keyakinan bahwa hal itu adalah haram maka berarti telah melakukan dosa besar, dan ia seorang yang fasiq, berani memerangi ALLAH dan Rasul-NYA.

Para ulama juga telah menetapkan haramnya bunga yang telah dipatok, misalnya sebesar 3%, 5%, 7%, 9% atau 12% dan seterusnya baik lebih kecil atau lebih besar lagi. Telah banyak diadakan muktamar-muktamar dalam masalah fiqih, dan juga Al Mu`tamar al-Fiqh ql-Islami yang telah menegaskan haramnya itu semua. Para ulama telah membantah mereka yang menghalalkan bunga bank dan merontokkan hujjah-hujjah mereka secara tota. Dalam masalah ini dapat dirujuk dalam kitab AL Fiqh al-Islami karya Dr. Wahbah al-Zuhaili juz 9 halaman 334 dan seterusnya, dan tidak ada bedanya antara bunga dalam jumlah kecil ataupun dalam jumlah besar, semuanya adalah riba yang diharamkan.

TIDAK ADA KETAATAN KEPADA MAKHLUK DALAM MAKSIAT KEPADA ALLAH AL-KHALIQ

Diharamkan atas setiap muslim untuk mengikuti, mendengarkan, dan mentaati seseorang dalam rangka melaksanakan dosa riba ini, karena tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam rangka maksiat kepada ALLAH SWT, Dalil yang menunjukan hal ini adalah Sabda Nabi SAW :

“Wajib atas seseorang untuk mendengar dan taat dalam sesuatu yang ia sukai atau yang ia benci, kecuali diperintahkan untuk bermaksiat, maka jika diperintahkan untuk bermaksiat tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sangat gambling dan terang menjelaskan bahwa tidak boleh mendengar dan taat, jika seseorang disuruh untuk bermaksiat. Dan seluruh umat telah sepakat bahwa hukumnya haram bagi seorang muslim untuk mentaati seseorang di dalam bermaksiat pada ALLAH dan Rasul-NYA.


TIDAK ADA PAKSAAN DAN DARURAT DALAM RIBA

Sangat disayangkan bahwa sebagian orang ada yang mengatakan bahwa dirinya terpaksa dan dalam keadaan darurat (dalam hal riba). Ini adalah tidak benar, karena paksaan atau kondisi darurat adalah jika seseorang akan kehilangan kehidupannya atau dia akan mati kelaparan dan tidak bisa tidak, atau dia memang tidak mempunyai jalan keluar lagi kecuali dengan melakukan sesuatu yang terpaksa tadi. Kondisi tersebut sama sekali tidak ada dalam realita saat ini, maka bagaimanakah kita bisa menipu diri sendiri dan mengaku ini adalah keadaan darurat atau terpaksa. Ingatlah, mari kita bertakwa kepada ALLAH, hendaknya kita tahu bahwa keselamatan dalam soal agama itu jauh lebih penting dan didahulukan daripada harta dunia, dan perlu kita ketahui bahwa itu semua adalah ujian dari ALLAH, pakah kita akan mengedepankan keridhaan ALLAH atau keridhaan diri sendiri, hawa nafsu dan harta kita belaka.

Ingatlah, mari segera kita kumandangkan, bahwa :

“Memakan sepotong roti dengan minyak, serta tinggal di gubug dalam ke halalan lebih kita cintai daripada memakan madu dan tinggal di dalam rumah mewah, tetapi haram”

BAHAYA RIBA


Diantara bahaya riba adalah pelakunya diperangi ALLAH dan Rasul-NYA, dihapuskannya barakah dalam harta, jiwa, istri, dan anak-anak. Menyebabkan tenggelam dalam hutang, terhalang dari ketenangan jiwa, menyebabkan tertimpa berbagai penyakit jiwa sebagai akibat dari kegelisahan, kesedihan dan memakan harta dengan cara yang bathil, juga menawarkan diri untuk mendapatkan murka ALLAH dan siksa-NYA, menyebabkan terjangkitnya penyakit hati, diantara bahaya riba juga adalah bahwa pelakunya biasa di kenal dengan sifat dusta, bersifat bakhil, menipu, dan akan mendatangkan kekafiran dengan segera.



BEBERAPA BENTUK RIBA DAN ANDIL DI DALAMNYA


Diantara contoh riba adalah : Pinjaman bank dengan bunga (riba) seperti untuk keperluan pernikahan, pembelian mobil (leasing), modal dagang, traveling, untuk beli rumah dan lain – lain. Rekening Giro, Angsuran Cepat dengan Bonus, Deposito Berbunga, Deposito tanpa bunga, (di bank yang memberlakukan sistem riba, karena membantu keharaman), jaminan bagi para peminat kredit, penulisan, persaksian, pembayaran dalam masalah bunga, Fasilitas-fasilitas kemudahan kredit, Penyebaran pengumuman, pembuatan brosur kredit mobil, motor, runah dll, pelaksanaan, pengambilalihan, semua ini dan juga selainnya yang masih banyak adalah merupakan sesuatu yang haram, dan para pelakunya berada di atas bahaya yang besar.

Catatan : Apa yang disebutkan diatas adalah contoh yang ada di negara penulis (Uni Emirat) atau sekitarnya, sedangkan di negara kita produk jasa yang ditawarkan bank mungkin saja menggunakan nama-nama yang lain misalnya bank syariah, Intinya adalah apapun namanya kalau produk jasa yang ditawarkannya adalah menggunakan sistem ribawi maka hukumnya adalah haram.

Kami Cuma berpesan agar lebih waspada dari tipu daya, makar, kejahatan, dan siasat praktisi riba, jagalah agama kalian semua dan juga harta kalian jangan sekali-kali kita terjerat dalam propaganda dan terjerumus ke dalam lembah riba.


BERBERAPA PERTANYAAN DAN JAWABAN SEPUTAR RIBA


Telah disampaikan kepada al-Lajnah ad-Daaimah lil Iftaa` (Komisi Tetap Urusan Fatwa) di Saudi Arabia sejumlah pertanyaan, dan telah dikeluarkan jawaban dari lembaga tersebut. Adapun yang menjadi ketua pada saat itu adalah yang mulia Syaikh Abdul Aziz bib Abdullah bin Baz rahimahulullah, semoga ALLAH melimpahkan kepada beliau rahmat-NYA yang luas.

Pertanyaan Pertama

Apakah riba itu diharamkan bagi kedua belah pihak, yang meminjamkan uang dengan riba (kreditur) dan juga peminjamnya (debitur/nasabah), Apakah boleh berhutang dengan riba karena suatu kebutuhan atau karena alasan fakir (miskin)?

Jawab :
Riba itu haram kapan saja dan dalam bentuk apa saja, haram atas para kreditur (pemilik modal) dan atas orang yang berhutang (debitur) dengan bunga, baik yang berhutang itu orang fakir ataupun orang kaya, masing-masing pihak mendapatkan dosa dan laknat, termasuk juga orang yang membantu keduanya, baik perantarannya (mediator), penulis ataupun saksinya.

Pertanyaan ke dua

Ada sebagian orang yang bermuamalah dengan riba dan memasukan riba ke dalam kaidah “Adhdharuratu tubiihul mahdzurat” (kondisi darurat menjadikan boleh perkara yang dilarang), kemudian ada sikap seseorang yang mempunyai hutang, dan dihadapkan dua pilihan apakah membayarnya ataukah diajukan ke mahkamah agar dapat mengambil bunga?

Jawab :

Tidak boleh bermuamalah dengan riba secara mutlak.

Pertanyaan ke tiga


Saya tahu bahwa mengambil pinjaman dari bank adalah haram, yang jadi pertanyaan adalah, apakah seseorang yang menjamin orang yang akan meminjam
Di bank juga termasuk kategori yang haram? (penjamin atau penanggungnya)


Jawab :

Mengambil hutang dari bank dengan sistem bunga adalah haram, karena merupakan riba, dan menjadi penjamin bagi pelaku riba adalah juga tidak diperbolehkan, karena termasuk membantu dalam perbuatan dosa. Padahal ALLAH telah melarang tolong menolong dalam berbuat dosa, sebagaimana Firmannya dalam (QS. Al-Maidah: 2) :

“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Pertanyaan ke empat.


Apakah bekerja di bank-bank itu hukumnya haram?, dan segala permasalahan terkait dengan karyawan juga haram?


Jawab :

Sesungguhnya bekerja di bank yang memberlakukan sistem riba adalah haram, sebab pegawai yang bekerja disana baik itu penulis rekening ribawi, ataupun yang menyerahkan uang di tempat yang menjalankan riba, atau orang yang menerimanya, pembawanya, yang mengantarkan berkas-berkasnya dari kantor ke tempat lain, ataupun urusan mereka yang mendukung kelancaran pekerjaan di bank dan semisal itu maka mereka semua dalam pekerjaan yang haram, baik terlibat langsung maupun tidak langsung. Dan apa yang didapat oleh para pekerja dengan usaha itu dan melaksanakan pekerjaan tersebut adalah haram termasuk upah atau penghasilan yang haram.


Pertanyaan ke lima

Apabila seseorang telah berkecimpung dengan riba, lalu ia ingin bertaubat maka bagaimanakah cara membersihkan uang yang ia dapat dari riba tersebut, apakah bisa disedekahkan?


Jawab :

Hendaknya dia bertaubat kepada ALLAH, memohon ampunan, menyesali perbuatannya yang telah lalu dan berhenti dari bunga atau riba, dengan cara menginfakkannya kepada fakir miskin. Namun ini bukan termasuk kategori sedekah yang di sunnahkan, tetapi merupakan bentuk untuk berlepas dari (berhenti) dari apa yang di haramkan ALLAH, untuk membersihkan dirinya dari apa yang telah ia lakukan berupa sesuatu yang tidak disyariatkan oleh ALLAH SWT.


BERTAUBAT DARI RIBA

Saudaraku sesama muslim yang di muliakan ALLAH, setelah kita melihat ayat-ayat ALLAH dan hadits-hadits Shahih dari Nabi Muhammad SAW, apa yang akan kita katakana jika ada orang yang terjerumus didalam dosa besar ini, sungguh kita harus mengajak orang tersebut untuk segera bertaubat, marilah segera dan bersegera, raihlah keselamatan dan kesuksesan sebelum segalanya hilang, sedangkan kematian itu lebih cepat daripada apa yang kita bayangkan. Bagaimanakah kita semua merasa senang untuk bertemu ALLAH SWT kelak, sedangkan kita semua dalam keadaan melakukan dosa besar ini (riba), ketahuilah bahwa pintu taubat senantiasa terbuka, janganlah kita terlambat untuk memasukinya, Dan berikut ini beberapa point penting untuk menuju taubat :

1. Mengakui sepenuhnya bahwasanya kita berada di atas dosa yang besar dan tidak ada jalan untuk terlepass darinya selain dengan taubat.
2. Percaya dengan sepenuh dan seutuhnya kepada ALLAH Ta`ala bahwasanya Dialah Yang Memberikan rizki, Pemilik kekuatan yang sangat kokoh.
3. Wajib atas kita untuk bersikap qana`ah dan ridha dengan perolehan yang sedikit namun halal, dan ini demi ALLAH lebih baik daripada banyak tetapi haram.
4. Bertekadlah dengantekad yang bulat dan benar, bahwa kita tidak mau mengambil kredit bank, atau berhutang lagi.
5. Bersegeralah melunasi hutang anda jangan menunda-nunda lagi atau mengakhirkannya, karena hal itu akan melipatgandakan hutang anda. Jika anda mempunyai rumah atau tempat usaha, atau tanah yang dapat dijual salah satunya.untuk membayar hutang tersebut, maka itu adalah sungguh langkah yang tepat, dan merupakan perdagangan yang menguntungkan dewngan izin ALLAH.
6. Jadikanlah taubatmu itu semata-mata murni karena mencari ridha ALLAH.
7. Ingatlah bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena ALLAH maka ALLAH maka ALLAH akan menggantikan sesuatu yang lebih baik.
8. Segera pindahkan rekening anda ke rekening bank Islam jika anda tidak punya hutang di bank ribawi, jangan sekali-kali meninggalkan saldo untuk bank sehingga kita menjadi penolong bagi mereka dalam keharaman.
9. Ingatlah selalu sabda Nabi Muhammad SAW :

“Setiap jasad yang tumbuh dari suht(harta haram) maka nerakalah yang lebih layak baginya”

Atas dasar ini maka bagaimanakah kita rela memberi makan diri kita, istri dan anak-anak kita dengan harta yang haram???



HADIAH DARI ALLAH UNTUK ORANG YANG BERTAUBAT


Saudaraku fillah!! Apakah kita benar-benar telah berpikir untuk bertaubat, apakah kita benar-benar telah bertekad untuk-NYA, apakah kita telah memulai langkah awal, apakah kita benar-benar telah menyesal. Jika demikian maka berbahagialah, terimalah kabar gembira ini, karena ALLAH Azza wa Jalla telah menjanjikan kebaikan untuk kita, Dengarkanlah hadiah ALLAH untuk kita :

1. Diterimanya taubat dengan izin ALLAH

ALLAH SWT dalam (QS. At-Taubah: 104) berfirman :

“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya ALLAH menerima taubat hamba-hamba-NYA”

2. Ampunan atas dosa-dosa

ALLAH SWT dalam (QS. Thaha: 82) berfirman :

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap berada di jalan yang benar”

3. Keburukan-keburukan diganti dengan kebaikan

ALLAH SWT dalam (QS. Al-Furqaan: 70) berfirman :

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu, kejahatan mereka diganti oleh ALLAH dengan kebajikan, Dan ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

4. ALLAH Azza Jalla mencintai kita

ALLAH SWT dalam (QS. Al-Baqarah: 222) berfirman :

“Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”

5. ALLAH Ta`ala bergembira dengan taubat hamba-NYA

Rasullulah SAW bersabda :

“Sungguh ALLAH lebih bergembira dengan taubat hanba-NYA daripada seseorang diantara kalian yang menemukan kembali ontanya yang tersesat di padang tak berpenghuni” (Muttafaq `alaihi)


Sungguh semua ini adalah suatu yang haq, benar-benar merupakan hadiah besar, maka kembalinya kita kepada ALLAH merupakan suatu kebahagiaan yang tak terhingga.



KISAH NYATA DARI SEORANG YANG BERTAUBAT DARI RIBA (DARI UNI EMIRAT ARAB)


Seseorang di Negara Uni Emirat Arab, telah bercerita kepada penulis (Abu Abdirrahman Ali Khumais Ubaid) secara pribadi, dia berkata, “Aku dulu bekerja di bank ribawi, dan aku sudah tahu dan sering mendengar bahwa bunga bank itu haram, dan bekerja di bank semisal ini adalah tidak boleh. Maka karena itu aku memutuskan untuk meninggalkan dan keluar dari bank ribawi tersebut, dan aku pun akhirnya keluar bertawaqal kepada ALLAH SWT, padahal waktu itu aku tidak memiliki pekerjaan pengganti. Aku akhirnya menganggur di rumah, tidak berapa lama kemudian aku membaca di Koran bahwa salah satu kementrian membutuhkan beberapa pegawai, maka aku pun melayangkan lamaran melalui Pos. Aku tidak pergi ke tempat manapun, tidak menemui siapapun sebagai perantara, juga tidak menghadap siapapun. Tidak berapa lama kemudian ada berita lewat telpon, dan sipenelpon berkata, “Apakah anda Fulan bin Fulan? Maka aku menjawab “ya”, lalu ia berkata, “Anda tercatat dalam data kami telah absen sebanyak dua hari”. Aku heran dengan perkataan tersebut, dan setelah melakukan pembicaraan agak lama antara aku dan dia, maka aku ketahui bahwa dia adalah seorang sekretaris sebuah kantor kementrian di Emirat tempat aku tinggal. Maka aku menghadap kepadanya pada hari ke tiga untuk masuk kerja. Aku masih merasa keheranan, sekaligus bersyukur dan memuji kepada ALLAH, Maha benar ALLAH telah berfirman (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) yang berbunyi :

“Barang siapa bertaqwa kepada ALLAH niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”


PENUTUP


Saudara dan saudariku di jalan ALLAH, bersabarlah kita sekalian dari ke fakiran dunia, sedikit penghasilan , dan sedikit harta, ini lebih baik bagi kita dari pada hari dimana kita tidak mampu lagi untuk bersabar menahan adzab ALLAH. Bertaqwalah kita kepada ALLAH dan janganlah memberi makan diri kita dan anak-anak kita dengan harta riba, karena telah terdapat dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari harta haram maka nerakalah yang layak baginya”

Ketahuilah bahwasannya rizki ada di tangan ALLAH dan seseorang tidak akan mati kelaparan (karena tidak makan riba). Keselamatan dalam agama adalah lebih berharga daripada harta dunia, ketahuilah bahwa semua itu hanyalah ujian dan cobaan, maka waspadalah jangan sampai kita terjerumus di dalamnya.

Apalagi komentar kita setelah membaca ayat-ayat ALLAH, hadits-hadits shahih Nabi SAW dan perkataan para ulama, kita sangat ingin dan berharap agar kita segera mengum,umkan taubat nasuha dengan sebenarnya, taubat karena ALLAH, di Jalan ALLAH selama-lamanya, dan ingatlah selalu Firman ALLAH Ta`ala dalam (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) :

“Barang siapa bertaqwa kepada ALLAH niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” Dan barang siapa yang bertawakkal kepada ALLAH niscaya ALLAH akan mencukupkan (keperluan)nya, sesungguhnya ALLAH melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-NYA.”

Ya ALLAH sungguh urusan-Mu telah sampai pada kita…ya ALLAH saksikanlah, semoga keselamatan, rahmat dan barakah dari ALLAH terlimpah kepada pembaca semuannya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, kepada keluarga, dan seluruh sahabatnya. Silahkan baca risalah ini dan selanjutnya berikan dan sebarkan kepada selain kita, anda, pembaca Blog ini.

Wassalam

Mohon Masukan dan kritiknya


Smart Moslem9